Banjir Bandang Nepal – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan China pada 26 Agustus 2026 menyisakan dampak besar. Selain menimbulkan kerusakan di Nepal, peristiwa tersebut juga memunculkan kekhawatiran mengenai potensi ancaman serupa di sejumlah wilayah India.
Jumlah korban akibat bencana tersebut terus bertambah. Lebih dari 1.250 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara ribuan warga Nepal lainnya masih belum diketahui keberadaannya. Besarnya dampak bencana membuat para ahli kembali menyoroti karakter geografis kawasan Himalaya dan jaringan sungai yang menghubungkan Nepal dengan India.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Nepal dan India berada dalam satu sistem hidrologi yang saling berkaitan. Air dari sejumlah sungai di Nepal mengalir menuju wilayah India. Oleh karena itu, peningkatan debit air hingga banjir di kawasan hulu dapat memberikan dampak terhadap daerah yang berada di hilir.
Ribuan Sungai Nepal Mengalir Menuju India
Mengutip laporan BBC pada Kamis (4/9/2026), Nepal memiliki lebih dari 6.000 sungai dan aliran air. Sebagian besar aliran tersebut bergerak ke arah selatan menuju India sebelum akhirnya terhubung dengan sistem Sungai Gangga.
Tiga sistem sungai besar mendominasi aliran air dari Nepal. Sungai Kosi berada di bagian timur, sedangkan Gandaki yang dikenal sebagai Gandak di India mengalir melalui kawasan tengah. Sementara itu, Karnali atau Ghaghara menjadi salah satu jalur utama di bagian barat.
Selain ketiga sistem tersebut, Sungai Mahakali yang juga dikenal sebagai Sharda mengalir di sepanjang wilayah perbatasan Nepal dan India.
Jaringan sungai yang menghubungkan kedua negara tidak hanya berasal dari aliran besar. Sejumlah sungai dengan ukuran lebih kecil juga berhulu di kawasan perbukitan Sivalik dan Churia. Beberapa di antaranya meliputi Bagmati, Kamala, Rapti, dan Babai.
Meskipun skalanya lebih kecil, sungai-sungai tersebut tetap memiliki potensi bahaya. Daerah tangkapan air yang relatif sempit dan memiliki lereng curam dapat membuat debit air meningkat dengan cepat ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Sungai Lintas Batas Tingkatkan Risiko Banjir
Ahli hidrologi dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD), Manis Shrestha, menjelaskan bahwa sekitar tujuh hingga sembilan sungai besar mengalir dari Nepal menuju dataran rendah India.
Aliran tersebut berperan penting dalam sistem air regional. Namun, pada saat bersamaan, peningkatan debit dapat meningkatkan risiko banjir di wilayah India yang berada di bagian hilir.
Komisi Air Pusat India juga memasukkan Kosi, Gandak, Bagmati, dan Ghaghara sebagai beberapa sungai lintas batas utama yang perlu mendapatkan perhatian.
Hubungan hidrologi tersebut membuat bencana yang terjadi di Nepal tidak dapat dipandang sebagai persoalan satu negara saja. Perubahan kondisi sungai di kawasan pegunungan dapat memengaruhi wilayah yang berjarak cukup jauh dari lokasi awal bencana.
Bihar Menjadi Salah Satu Wilayah Paling Rentan
Bihar menjadi salah satu negara bagian India yang menghadapi ancaman banjir cukup tinggi dari sistem sungai Nepal. Sekitar tiga perempat kawasan Bihar bagian utara masuk dalam klasifikasi wilayah rawan banjir.
Sebagian besar sungai besar yang berkontribusi terhadap banjir di Bihar memiliki hulu atau jalur aliran dari Nepal.
Salah satu yang paling terkenal adalah Sungai Kosi. Sungai tersebut bahkan mendapat julukan sebagai “kesedihan Bihar” karena sejarah banjir dan perubahan alirannya yang berulang kali berdampak terhadap masyarakat setempat.
Selain Kosi, aliran Gandak, Bagmati, dan Kamala juga dapat meningkatkan ancaman banjir di Bihar, terutama ketika curah hujan tinggi terjadi secara bersamaan di kawasan hulu.

Tim penyelamat mengheningkan cipta untuk mengenang para korban tanah longsor 26 Agustus di dekat Pelabuhan Gyirong di wilayah Gyirong, Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya, pada 1 September 2026.
Ancaman Banjir Juga Mengintai Uttar Pradesh
Risiko akibat aliran sungai dari Nepal tidak berhenti di Bihar. Uttar Pradesh juga menghadapi ancaman dari Sungai Ghaghara, Rapti, serta Gandak.
Beberapa distrik seperti Gorakhpur, Bahraich, Lakhimpur Kheri, dan Shravasti tercatat berulang kali menghadapi dampak luapan sungai.
Bihar memang menanggung risiko yang sangat besar. Namun, ancaman terhadap Uttar Pradesh juga perlu mendapatkan perhatian karena wilayah terdampaknya cukup luas.
Daerah lain di India turut terhubung dengan sistem sungai lintas batas. Uttarakhand, misalnya, berbagi aliran Mahakali dan Sharda. Sementara itu, kawasan Bengal Utara menerima aliran dari Sungai Mechi dan Mahananda.
Hujan Monsun dan Sedimen Bisa Memperbesar Dampak
Ancaman banjir yang mencapai India tidak selalu bermula langsung dari kawasan Himalaya yang lebih tinggi. Wilayah dengan ketinggian lebih rendah seperti Sivalik, Churia, dan Terai juga dapat berperan besar dalam meningkatkan debit sungai.
Hujan monsun dengan intensitas tinggi dapat mengguyur daerah aliran sungai dalam waktu singkat. Setelah itu, air bergerak melalui lereng yang curam sambil membawa material dan sedimen menuju dataran yang lebih rendah.
Ketika memasuki wilayah yang lebih datar, sungai dapat membentuk sejumlah saluran bercabang. Perubahan jalur tersebut membuat pergerakan air semakin kompleks dan dalam kondisi tertentu lebih sulit diprediksi.
Oleh sebab itu, kondisi cuaca dan karakter sungai di Nepal menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan India selama musim hujan.
Kondisi Infrastruktur India Ikut Menentukan Risiko
Meski aliran air dari Nepal memiliki pengaruh besar, tingkat keparahan banjir di India tidak hanya bergantung pada kondisi di negara tetangganya tersebut.
Debit Sungai Gangga, kemampuan tanggul dan bendungan menahan peningkatan volume air, serta kondisi sistem drainase turut menentukan seberapa besar dampak yang akan muncul.
Saluran drainase yang tersumbat, misalnya, dapat memperlambat pembuangan air dan meningkatkan risiko genangan. Sebaliknya, pengelolaan sungai dan infrastruktur pengendalian banjir yang baik dapat membantu mengurangi dampak ketika debit meningkat.
Para ahli juga menepis anggapan bahwa Nepal memiliki banyak waduk besar yang dapat secara sengaja melepaskan air dalam jumlah sangat besar menuju India.
Nepal justru memiliki kapasitas penyimpanan air yang relatif terbatas. Kulekhani, yang menjadi salah satu fasilitas penyimpanan air utama di negara tersebut, hanya mampu menampung kurang dari sepersepuluh kilometer kubik air.
Manajer Intervensi ICIMOD untuk pengurangan risiko bencana, Aswata Sanyal, menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat Nepal praktis tidak memiliki cadangan air dalam jumlah sangat besar yang dapat dilepaskan begitu saja ke wilayah India.
Bencana Nepal pada akhirnya menjadi pengingat mengenai eratnya hubungan sistem sungai lintas batas di kawasan Himalaya. Karena aliran air tidak mengenal batas administratif negara, koordinasi Nepal dan India dalam pemantauan cuaca, debit sungai, sistem peringatan dini, serta pengurangan risiko bencana menjadi semakin penting untuk melindungi masyarakat di kawasan hulu maupun hilir.