Jensen Interceptor GTX – membuka babak baru bagi produsen mobil asal Inggris tersebut setelah namanya lama identik dengan kendaraan klasik. Jensen kini menunjukkan ambisi untuk kembali memasuki segmen mobil berperforma tinggi melalui sebuah prototipe yang menggabungkan ciri khas masa lalu dengan teknologi otomotif masa kini.
Alih-alih sekadar menghidupkan kembali sebuah nama lama, perusahaan menjadikan GTX sebagai sarana untuk memperlihatkan kemampuan teknis yang sedang mereka kembangkan. Proyek ini sekaligus memberikan gambaran awal mengenai mobil produksi Jensen pada masa mendatang.
Perusahaan tetap mempertahankan nuansa desain yang mengingatkan publik terhadap identitas Interceptor. Namun, pendekatan berbeda terlihat ketika membahas perangkat mekanis di balik bodinya. Jensen mengembangkan bagian tersebut dengan orientasi performa yang jauh lebih ekstrem.
Informasi yang di publikasikan Motor1 pada Rabu (9/9/2026) menyebutkan bahwa Interceptor GTX menggunakan basis mesin V8 6,8 liter dengan supercharger dari General Motors. Akan tetapi, unit tersebut telah menjalani pengembangan ekstensif di Amerika Serikat sehingga spesifikasinya berbeda jauh dari kondisi awal.
Mesin Interceptor GTX Mendapat Perubahan Besar
Late Model Engine di Texas mendapat tugas mengembangkan mesin yang menjadi sumber tenaga GTX. Pekerjaan tersebut mencakup penggantian sebagian besar bagian bawaan. Setelah proses pengembangan selesai, kurang dari seperlima komponen awal yang masih di pertahankan.
Tim teknis melakukan pengerjaan khusus pada kepala silinder menggunakan metode CNC. Mereka juga memilih titanium sebagai material katup. Sementara itu, perangkat elektronik MoTeC bertugas mengatur kerja mesin agar sesuai dengan kebutuhan kendaraan berperforma tinggi.
Pengembangan tersebut membuat GTX memiliki keluaran tenaga yang jauh melampaui mobil sport konvensional. Konfigurasi awalnya menghasilkan 960 hp. Mesin itu bahkan memiliki ruang pengembangan hingga mencapai sekitar 1.200 hp.
Torsi yang tersedia juga tergolong besar, yakni mencapai 1.491 Nm. Seluruh kemampuan tersebut di arahkan menuju roda belakang.
Jensen memilih gearbox sequential dengan enam tingkat percepatan dari Samsonas Motorsport sebagai penghubung antara mesin dan sistem penggerak. Poros penggeraknya memanfaatkan material serat karbon, sedangkan Wavetrac memasok perangkat di ferensial untuk mobil tersebut.
Pengendalian Disesuaikan dengan Besarnya Tenaga
Tenaga mendekati empat digit membutuhkan perangkat pendukung yang mampu menjaga mobil tetap terkendali. Atas dasar itu, Jensen tidak hanya berkonsentrasi pada peningkatan performa mesin.
Pada bagian suspensi, perusahaan menerapkan konfigurasi double-wishbone. Peredam Nitron yang menyediakan pengaturan tiga arah menjadi bagian dari sistem tersebut. Kombinasi ini memberikan ruang pengaturan yang lebih luas untuk menyesuaikan karakter kendaraan.
Jensen kemudian mempercayakan kebutuhan pengereman kepada perangkat AP Racing. Pelek forged berukuran 20 inci melengkapi bagian kaki-kaki.
Struktur utama kendaraan menggunakan aluminium. Dalam pengembangannya, Jensen bekerja bersama Avant Design untuk menghasilkan konstruksi yang sesuai dengan karakter GTX.
Prototipe tersebut juga memiliki hubungan erat dengan mobil produksi yang sedang di persiapkan. Jensen memperkirakan sekitar 80 persen bentuk luar yang terlihat pada GTX dapat di pertahankan ketika perusahaan mengembangkan versi untuk penggunaan di jalan umum.

Jensen Interceptor GTX Tampil Ganas dengan Transmisi Sekuensial dan Carbon
Bentuk Bodi Tidak Hanya Mengejar Penampilan
Karakter agresif pada eksterior GTX memiliki fungsi lebih dari sekadar membedakannya dari Jensen generasi terdahulu. Tim pengembang memanfaatkan bentuk bodi untuk mengendalikan udara yang melewati kendaraan ketika kecepatannya meningkat.
Sejumlah bukaan di tempatkan pada area eksterior untuk mendukung kebutuhan aliran udara. Bagian belakang mendapatkan diffuser, sementara sebuah wing dengan pengaturan sudut melengkapi paket aerodinamikanya.
Perangkat tersebut membantu GTX menciptakan tekanan ke bawah. Jensen menyebut kemampuan downforce mobil ini dapat mencapai 349 kg.
Angka itu memperlihatkan bahwa proyek GTX mengutamakan kemampuan dinamis secara serius. Pada saat yang sama, perusahaan tetap mempertahankan sejumlah karakter visual yang membuat mobil tersebut mudah di kaitkan dengan sejarah Jensen.
Dengan pendekatan itu, perusahaan tidak perlu memilih antara identitas klasik dan teknologi baru. Keduanya di tempatkan dalam satu kendaraan dengan fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.
Interior Menggabungkan Perlengkapan Sirkuit dan Material Premium
Orientasi performa berlanjut ke dalam kabin. Pengemudi akan menemukan sejumlah perangkat yang lebih lazim di jumpai pada kendaraan untuk aktivitas lintasan.
Struktur pelindung kabin memenuhi ketentuan FIA. Untuk posisi duduk, Jensen memilih kursi Tillett berkonstruksi serat karbon. Sistem sabuk enam titik menjaga tubuh pengemudi tetap berada pada posisinya ketika mobil menerima gaya besar saat berakselerasi, mengerem, ataupun menikung.
MoTeC juga menyediakan perangkat digital yang menyajikan berbagai informasi penting kepada pengemudi.
Namun, Jensen tidak menjadikan kabin GTX sepenuhnya seperti kokpit mobil kompetisi. Perusahaan masih memberikan elemen premium melalui penggunaan Alcantara. Detail jahitan berwarna oranye memberikan aksen kontras pada material tersebut.
Pilihan itu mencerminkan dua karakter yang ingin di pertemukan Jensen. GTX memiliki perlengkapan yang mendukung aktivitas berperforma tinggi, tetapi tetap membawa nuansa eksklusif yang lazim di temukan pada sebuah grand tourer.
GTX Menjadi Awal Pengembangan Mobil Jalan Raya Jensen
Posisi Interceptor GTX dalam strategi Jensen tidak berhenti sebagai prototipe. Kendaraan tersebut menjadi titik awal bagi pengembangan produk berikutnya.
Managing Director Jensen International David Duerden menyampaikan bahwa proyek GTX memperlihatkan arah yang hendak ditempuh perusahaan. Kehadirannya juga menandai di mulainya fase baru bagi Jensen.
Rencana berikutnya mencakup pengembangan dua kendaraan yang dapat digunakan di jalan raya. Perusahaan akan membedakan keduanya berdasarkan karakter dan kebutuhan konsumen.
Model GTR akan menjadi pilihan dengan orientasi performa lebih kuat. Sebaliknya, GT bakal menempatkan aspek kemewahan sebagai salah satu daya tarik utamanya. Teknologi yang telah diuji melalui proyek GTX akan berperan sebagai dasar pengembangan kedua kendaraan tersebut.
Jensen belum memberikan tanggal pasti mengenai debut GTR maupun GT. Perusahaan juga belum membuka informasi harga kepada publik.
Walaupun demikian, GTX sudah memperlihatkan skala ambisi yang sedang dibangun Jensen. Perusahaan tidak sekadar membawa kembali sebuah nama bersejarah, tetapi mengembangkan perangkat mekanis, konstruksi, aerodinamika, dan teknologi kabin yang sesuai dengan kebutuhan mobil performa masa kini.
Kombinasi mesin dengan potensi 1.200 hp, penggerak roda belakang serta perangkat yang berasal dari lingkungan motorsport menunjukkan arah tersebut. Kini, perhatian berikutnya tertuju pada seberapa banyak teknologi prototipe GTX yang benar-benar akan hadir ketika Jensen mulai membawa GTR dan GT ke pasar.
Jika rencana tersebut terealisasi, era baru Jensen akan berdiri di atas pendekatan yang berbeda dari sekadar mengandalkan daya tarik sejarah. Perusahaan berusaha menggunakan warisan Interceptor sebagai identitas sekaligus menjadikan teknologi modern sebagai fondasi untuk kembali bersaing di segmen mobil sport.