Tradisi Saparan – kembali menjadi momen penting bagi masyarakat Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Perayaan adat yang rutin di gelar setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa ini tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan, tetapi juga menjadi sarana menjaga warisan budaya yang telah di wariskan secara turun-temurun.
Salah satu daya tarik utama dalam peringatan Saparan di Dusun Kedakan adalah pementasan Wayang Jimat, sebuah kesenian tradisional yang memiliki karakteristik berbeda di bandingkan pertunjukan wayang kulit pada umumnya. Tradisi ini terus di pertahankan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari identitas budaya yang melekat erat dengan kehidupan warga di lereng Gunung Merbabu.
Berada di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut, Dusun Kedakan di kenal sebagai salah satu permukiman tertinggi di kawasan Gunung Merbabu. Lokasi tersebut menjadi saksi berlangsungnya pertunjukan Wayang Jimat yang hanya di pentaskan dua kali dalam setahun, yakni pada hari kedua Idulfitri dan saat perayaan Saparan.
Wayang Jimat Menjadi Bagian Penting Tradisi Saparan
Pada peringatan Saparan tahun ini yang berlangsung pada Senin Kliwon, masyarakat kembali menggelar pementasan Wayang Jimat sebagai rangkaian utama acara adat. Berbeda dari pertunjukan wayang pada umumnya, pementasan ini memiliki aturan, tata cara, hingga perlengkapan yang masih mempertahankan bentuk tradisionalnya.
Durasi pertunjukan berlangsung relatif singkat, di mulai sekitar pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Meski demikian, nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun para peneliti.
Selain warga sekitar, pertunjukan tersebut juga di hadiri oleh Bupati Magelang beserta jajaran pemerintah daerah. Sejumlah peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut menyaksikan secara langsung sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan kekayaan budaya lokal yang masih bertahan hingga kini.
Memiliki Ciri Khas yang Berbeda dari Wayang Kulit Umum
Wayang Jimat memiliki sejumlah keunikan yang membedakannya dengan pertunjukan wayang kulit modern. Salah satu perbedaannya terletak pada ukuran wayang yang lebih kecil serta bentuk ukiran dan sunggingan yang memiliki karakter tersendiri.
Tidak hanya itu, perangkat gamelan yang di gunakan juga jauh lebih sederhana. Dalam satu pertunjukan hanya di mainkan beberapa alat musik tradisional seperti gong, kendang, saron, ketuk, kenong, serta kecer.
Jumlah pengrawit pun relatif sedikit, yakni sekitar enam orang. Berbeda dengan pertunjukan wayang kulit pada umumnya, pementasan Wayang Jimat tidak menghadirkan sinden sebagai pengiring lagu. Seluruh pertunjukan berlangsung secara sederhana, namun tetap sarat makna budaya.
Keunikan lainnya terlihat pada sosok dalang. Dalang yang memainkan Wayang Jimat tidak harus berasal dari keluarga dalang maupun memiliki latar belakang seni pedalangan. Hal tersebut menjadi salah satu ciri khas yang terus di pertahankan oleh masyarakat Dusun Kedakan.
Prosesi Saparan Di Awali dengan Ritual Adat
Sebelum pertunjukan wayang di mulai, masyarakat lebih dahulu melaksanakan sejumlah prosesi adat. Rangkaian kegiatan di awali dengan sandranan atau doa bersama di makam Ki Hajar Doko yang di ikuti seluruh kepala keluarga di dusun tersebut.
Keesokan harinya, warga kembali melaksanakan kegiatan bersih dusun yang di pusatkan di masjid sebagai simbol penyucian lingkungan. Sekaligus bentuk rasa syukur atas berbagai berkah yang di terima.
Setelah seluruh prosesi adat selesai di laksanakan, barulah pementasan Wayang Jimat di gelar sebagai penutup rangkaian kegiatan Saparan. Tradisi ini di percaya telah berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun dan terus di wariskan kepada generasi berikutnya.

Suasana pementasan wayang jimat yang berlangsung di Dusun Kedakan, Desa Kenalanan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang atau di lereng Gunung Merbabu, Senin Kliwon (27/7/2026).
Dalang Di percaya Di pilih Melalui Wangsit
Salah satu aspek paling menarik dari Wayang Jimat adalah proses penunjukan dalangnya. Berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya yang mengandalkan kemampuan seni dan garis keturunan, dalang Wayang Jimat di percaya di pilih berdasarkan wangsit atau petunjuk spiritual.
Setelah dalang sebelumnya wafat, pertunjukan Wayang Jimat sempat tidak di gelar selama beberapa tahun karena belum di temukan sosok pengganti yang di anggap memperoleh amanah tersebut.
Hingga akhirnya muncul sosok Ki Supoyo yang di percaya menerima petunjuk untuk menjadi dalang. Sejak saat itu, pertunjukan Wayang Jimat kembali di laksanakan secara rutin dalam setiap perayaan Saparan maupun hari kedua Lebaran.
Kepercayaan masyarakat terhadap proses pemilihan dalang tersebut menjadi bagian penting yang tidak dapat di pisahkan dari tradisi Wayang Jimat. Bahkan, masyarakat meyakini keberlangsungan pertunjukan akan tetap terjaga selama masih ada wangsit yang menunjuk penerus berikutnya.
Lontar Kuno dan Nilai Sejarah Menjadi Perhatian Peneliti
Selain pertunjukan wayangnya, keberadaan naskah lontar berusia ratusan tahun yang di simpan bersama perangkat Wayang Jimat juga menjadi perhatian para peneliti budaya.
Menurut hasil pengamatan para akademisi, tradisi tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena memperlihatkan bentuk pertunjukan wayang yang berbeda dari perkembangan wayang kontemporer.
Peneliti BRIN menilai proses pemilihan dalang melalui jalur spiritual merupakan fenomena budaya yang unik dan jarang di temukan di daerah lain. Masyarakat setempat pun tetap memegang teguh pesan leluhur sebagai dasar dalam melestarikan tradisi tersebut.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Magelang melihat Wayang Jimat sebagai warisan budaya yang berpotensi menjadi bahan kajian sejarah. Perbedaan bentuk wayang, alur cerita, hingga iringan musik di nilai memiliki keterkaitan dengan perkembangan wayang kuno di wilayah Kedu.
Kesimpulan
Wayang Jimat di Dusun Kedakan bukan sekadar pertunjukan seni tradisional, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat lereng Gunung Merbabu. Keunikan bentuk wayang, penggunaan gamelan sederhana, proses pemilihan dalang melalui wangsit. Hingga pelaksanaan yang hanya dilakukan pada waktu tertentu menjadikan tradisi ini memiliki nilai budaya yang sangat tinggi.
Pelestarian Wayang Jimat menunjukkan bahwa warisan leluhur masih mampu bertahan di tengah perkembangan zaman. Dengan adanya dukungan masyarakat, pemerintah, serta kalangan akademisi. Tradisi ini di harapkan terus terjaga sehingga dapat menjadi sumber pembelajaran sejarah dan budaya bagi generasi mendatang.