Mobil PHEV Indonesia memasuki babak persaingan baru pada pertengahan 2026. Teknologi yang menggabungkan sumber tenaga listrik dengan mesin bensin tersebut kini hadir dalam pilihan kendaraan yang semakin beragam. Konsumen tidak lagi hanya menemukan satu karakter produk karena pabrikan mulai menawarkan PHEV dalam bentuk MPV keluarga hingga SUV berperforma tinggi.
Perubahan tersebut terlihat jelas dari perkembangan distribusi kendaraan selama dua bulan terakhir. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat 512 unit PHEV pada Mei 2026. Namun, satu bulan kemudian jumlah wholesales melesat menjadi 2.402 unit.
Selisih tersebut mencapai 1.890 unit. Dengan kata lain, distribusi Juni hampir lima kali lebih besar daripada bulan sebelumnya. Angka 2.402 unit juga menjadi pencapaian bulanan tertinggi sejak kategori plug-in hybrid berkembang di pasar otomotif Indonesia.
Menariknya, sebagian besar volume tersebut berasal dari satu produk. BYD M6 DM menyumbangkan 1.825 unit atau sekitar 76 persen dari total wholesales PHEV selama Juni.
Sementara itu, dua SUV asal China turut mencatatkan kontribusi. Chery Tiggo 8 CSH mencapai 251 unit, sedangkan Jetour T1 i-DM membukukan 97 unit.
Ketiganya hadir dengan konsep berbeda. Karena itu, persaingan PHEV tidak hanya berbicara mengenai besarnya tenaga atau kemampuan baterai. Produsen juga mulai menawarkan pendekatan berdasarkan kebutuhan pengguna.
MPV PHEV Mulai Mendapat Tempat
Dominasi M6 DM memberikan gambaran menarik mengenai potensi MPV elektrifikasi. BYD memilih format kendaraan keluarga yang dapat mengakomodasi banyak penumpang sekaligus menawarkan fleksibilitas dari sistem plug-in hybrid.
Pilihan tempat duduknya mencapai enam atau tujuh orang, tergantung tipe. Dengan demikian, konsumen yang terbiasa menggunakan MPV tetap bisa beralih menuju kendaraan elektrifikasi tanpa meninggalkan kebutuhan ruang kabin.
Teknologi penggeraknya memanfaatkan mesin bensin berkapasitas 1.5 liter dengan konfigurasi empat silinder DOHC 16 katup. Unit tersebut menghasilkan 96 Tk dan torsi sekitar 125-126 Nm.
Selain mesin konvensional, sistem elektrifikasinya menggunakan motor listrik yang memiliki torsi 210 Nm. Tenaga maksimal dari kombinasi sistem dapat mencapai 207 Tk.
Perbedaan menarik lainnya terdapat pada kemampuan berkendara menggunakan listrik. Kelompok Classic menawarkan daya jelajah listrik hingga 40 kilometer. Sementara itu, keluarga Cross meningkatkan kemampuan tersebut hingga 100 kilometer.
Rentang harganya juga cukup lebar. Classic Standard tujuh kursi menjadi tipe paling terjangkau dengan banderol Rp 298 juta. Di atasnya terdapat Classic Dynamic seharga Rp 318 juta.
Selanjutnya, lini Cross dimulai dari Advanced dengan harga Rp 360 juta. Superior berada pada Rp 380 juta. Adapun konfigurasi enam penumpang melalui Superior Captain Seat menjadi pilihan tertinggi dengan harga Rp 390 juta.
Di dalam kabin, pengguna mendapatkan perangkat yang mengikuti kebutuhan kendaraan modern. Panel instrumen menggunakan tampilan digital, sedangkan layar sentuh berukuran besar mendukung pengoperasian berbagai fungsi. Fitur konektivitas dan keselamatan juga melengkapi kendaraan tersebut.
Konsumen SUV Mendapat Dua Karakter Berbeda
Pasar mobil PHEV Indonesia tidak hanya menawarkan MPV. Konsumen yang lebih menyukai SUV dapat mempertimbangkan Tiggo 8 CSH ataupun T1 i-DM. Namun, keduanya membawa karakter yang tidak sama.
Tiggo 8 CSH lebih menonjolkan kombinasi antara kebutuhan keluarga dan performa. Chery menyediakan tujuh tempat duduk sekaligus memasukkan berbagai perangkat modern ke dalam kabin.
Panoramic sunroof menjadi salah satu kelengkapannya. Selain itu, tersedia jok elektrik, kamera dengan cakupan 360 derajat, panel instrumen digital dan sistem infotainment berlayar besar. Teknologi ADAS turut mendukung fungsi bantuan berkendara.
Performa Tiggo 8 CSH berasal dari teknologi Chery Super Hybrid. Sistem tersebut mempertemukan mesin ACTECO H4J15 1.500 cc turbo dengan penggerak listrik.
Hasil kerja sistem menghasilkan tenaga gabungan sampai 341 hp. Sementara itu, torsinya dapat mencapai 525 Nm.
Kemampuan tersebut membuat versi AWD mempunyai karakter performa yang cukup kuat. Berdasarkan klaim Chery, kendaraan dapat mencapai kecepatan 100 kpj dari kondisi berhenti dalam 6,8 detik.
Namun, performa bukan satu-satunya daya tarik. Dalam penggunaan listrik penuh, jarak tempuhnya dapat mencapai 90 kilometer menurut klaim produsen. Ketika mesin dan sistem hybrid bekerja untuk perjalanan panjang, total daya jelajahnya bisa melampaui 1.300 kilometer.
Harga versi FWD Comfort mencapai Rp 449,9 juta untuk wilayah Jakarta. Kemudian, FWD Premium berada pada Rp 519,9 juta. Konsumen yang membutuhkan sistem AWD perlu menyiapkan Rp 569,9 juta.

Chery Tiggo 8 CSH AWD varian Premium AWD.
Jetour Mengambil Jalur SUV Petualang
Jika Tiggo 8 CSH menonjolkan karakter SUV keluarga, Jetour mengambil arah berbeda melalui T1 i-DM. Bentuk kendaraan yang cenderung mengotak memberikan kesan lebih kokoh.
Ground clearance yang tinggi semakin menegaskan konsep tersebut. Oleh sebab itu, tampilannya lebih dekat dengan karakter kendaraan petualang dibandingkan MPV maupun SUV perkotaan.
Meski demikian, kabinnya tetap mengusung pendekatan modern. Pengguna mendapatkan panel instrumen digital dan layar infotainment berukuran besar. Material kulit pada jok turut memperkuat kenyamanan interior.
Perbedaan utama lainnya terletak pada teknologi Intelligent Dual Mode atau i-DM. Sistem ini menggunakan mesin Dedicated Hybrid Engine bersama satu motor listrik.
Mesin turbo TGDi empat silinder berkapasitas 1.500 cc menghasilkan 136 PS atau sekitar 134 Tk. Torsi dari mesin tersebut mencapai 220 Nm.
Di sisi elektrifikasi, motor mampu menghasilkan 204 PS atau sekitar 201 Tk. Selain itu, tersedia torsi instan sebesar 310 Nm.
Jetour menggunakan Dedicated Hybrid Transmission dengan single fixed gear untuk meneruskan tenaga menuju roda depan. Sistem kendaraan kemudian menentukan cara kerja sumber tenaga sesuai kondisi perjalanan.
Misalnya, mobil dapat memanfaatkan EV ketika penggunaan listrik menjadi pilihan utama. Sistem juga mempunyai skenario Series Hybrid, Parallel Hybrid hingga Engine Drive. Dengan demikian, pengaturan tenaga tidak terpaku pada satu pola sepanjang perjalanan.
Jetour memasarkan T1 i-DM dengan harga Rp 558 juta di Indonesia.
Harga dan Kebutuhan Jadi Pembeda Utama
Jika melihat ketiga produk tersebut secara bersamaan, perbedaan strategi setiap merek terlihat semakin jelas. BYD bermain pada kategori MPV dengan harga awal di bawah Rp 300 juta. Sebaliknya, Chery dan Jetour menyasar pengguna SUV pada tingkat harga yang lebih tinggi.
Rentang tersebut memberi konsumen kesempatan memilih berdasarkan prioritas. Keluarga yang membutuhkan banyak kursi dapat mempertimbangkan karakter M6 DM. Sementara itu, pembeli yang mengejar tenaga besar memiliki alternatif Tiggo 8 CSH.
T1 i-DM menawarkan pilihan lain melalui desain yang lebih berorientasi pada karakter petualang. Oleh karena itu, tiga produk dengan teknologi dasar serupa belum tentu menyasar kebutuhan pengguna yang sama.
GIIAS 2026 turut menjadi panggung yang memperlihatkan perkembangan tersebut. Semakin banyak kendaraan elektrifikasi hadir dengan konsep yang berbeda, sehingga persaingan mulai bergeser dari sekadar memperkenalkan teknologi menuju upaya menawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Lonjakan Juni Jadi Sinyal Persaingan Baru
Pertumbuhan dari 512 unit pada Mei menjadi 2.402 unit pada Juni memberikan sinyal kuat bagi perkembangan mobil PHEV Indonesia. Namun, angka tersebut juga menunjukkan besarnya pengaruh M6 DM karena model itu menguasai sekitar tiga perempat distribusi selama Juni.
Karena itu, perkembangan beberapa bulan berikutnya akan menjadi bagian menarik untuk melihat arah persaingan. Produsen perlu menawarkan lebih dari sekadar teknologi elektrifikasi ketika jumlah pemain terus bertambah.
Harga, bentuk kendaraan, kapasitas penumpang, performa, fitur serta kemampuan menggunakan tenaga listrik dapat menjadi pertimbangan konsumen. Selain itu, karakter setiap model memungkinkan pabrikan menyasar kelompok pembeli yang berbeda.
Pada akhirnya, bertambahnya pilihan memberikan keuntungan bagi calon pengguna. Konsumen kini dapat mencari kendaraan plug-in hybrid berdasarkan kebutuhan keluarga, performa maupun karakter perjalanan. Kondisi tersebut membuat persaingan PHEV nasional semakin beragam seiring berkembangnya tren elektrifikasi di Indonesia.