Pawai Ogoh-Ogoh – semarang kembali menunjukkan wajah toleransi melalui penyelenggaraan Festival Budaya Lintas Agama yang di ramaikan dengan pawai ogoh-ogoh. Kegiatan ini berlangsung meriah di sepanjang Jalan Pemuda hingga kawasan Simpang Lima, dan menjadi salah satu agenda budaya tahunan yang di nantikan masyarakat. Ribuan warga tampak memadati lokasi sejak siang hari untuk menyaksikan kirab yang sarat makna kebersamaan tersebut.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak pukul 13.00 WIB, ketika warga mulai berdatangan ke sekitar halaman Balai Kota Semarang. Mereka rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan posisi terbaik untuk menikmati pertunjukan. Salah satu warga, Tuti (40), mengungkapkan bahwa pawai ogoh-ogoh menjadi hiburan yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat.
Menurutnya, setiap tahun ogoh-ogoh yang di tampilkan selalu menghadirkan variasi baru, sehingga mampu membangkitkan rasa penasaran penonton. Selain itu, keberagaman pertunjukan seni yang di tampilkan turut menambah daya tarik acara, menjadikannya lebih dinamis di bandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kirab Budaya Dimulai dari Balai Kota Menuju Simpang Lima
Kirab budaya secara resmi di mulai pada pukul 16.00 WIB dari halaman Balai Kota Semarang dan bergerak menuju Simpang Lima. Barisan pembuka di awali oleh kelompok Pagar Ayu WHDI Kota Semarang, yang kemudian di ikuti oleh para tokoh dan pemimpin agama dari berbagai kepercayaan. Kehadiran mereka menegaskan pesan utama acara, yaitu pentingnya persatuan di tengah keberagaman.
Tak lama setelah itu, ogoh-ogoh pertama mulai di arak oleh perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang. Iringan musik tradisional gong beleganjur menambah suasana semakin semarak. Selain ogoh-ogoh utama, terdapat pula ogoh-ogoh berukuran kecil yang di bawakan oleh anak-anak, serta penampilan khas seperti Warak Ngendog yang menjadi ikon budaya lokal.
Rangkaian kirab kemudian di lanjutkan oleh ogoh-ogoh dari berbagai daerah, termasuk Kendal dan Jepara. Setiap kelompok menampilkan ciri khas masing-masing, mencerminkan kekayaan budaya yang beragam namun tetap harmonis dalam satu kesatuan acara.
Partisipasi Lintas Agama Perkuat Nilai Toleransi
Salah satu keunggulan festival ini adalah keterlibatan berbagai elemen masyarakat dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Tidak hanya umat Hindu, tetapi juga komunitas Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan turut ambil bagian dalam pawai tersebut.
Penampilan barongsai dari komunitas Konghucu, pertunjukan seni dari kelompok mahasiswa, hingga iringan rebana dan lagu-lagu religi dari komunitas Muslim semakin memperkaya suasana. Keterlibatan organisasi kepemudaan lintas agama juga menunjukkan bahwa semangat toleransi telah mengakar kuat di kalangan generasi muda.
Total peserta yang terlibat dalam kegiatan ini mencapai sekitar 1.500 orang. Jumlah tersebut mencerminkan tingginya partisipasi masyarakat dalam menjaga keharmonisan sosial melalui kegiatan budaya.

Suasana pawai ogoh-ogoh di halaman Balai Kota Semarang, Jalan Pemuda, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Minggu (26/4/2026).
Simbol Toleransi dan Refleksi Spiritual
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pawai ogoh-ogoh bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan simbol nyata toleransi di kota ini. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Semarang sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi tinggi merupakan hasil kerja sama seluruh elemen masyarakat.
Festival ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Dalam konteks spiritual, ogoh-ogoh melambangkan sifat negatif manusia yang perlu disucikan. Oleh karena itu, pawai ini tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga mengandung pesan reflektif tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup.
Lebih lanjut, ia berharap pencapaian Semarang sebagai kota toleran dapat terus di tingkatkan di masa mendatang. Menurutnya, keberagaman yang di kelola dengan baik justru menjadi kekuatan sosial yang mampu mempererat persatuan.
Harmoni dalam Keberagaman Jadi Identitas Kota
Festival budaya ini memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat di rayakan secara positif. Kehadiran berbagai kelompok dengan latar belakang berbeda dalam satu panggung yang sama menjadi bukti bahwa harmoni sosial bukan sekadar konsep, melainkan realitas yang hidup di tengah masyarakat.
Pawai ogoh-ogoh di Semarang tidak hanya menjadi tontonan tahunan, tetapi juga sarana edukasi sosial bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai toleransi, kebersamaan, dan penghargaan terhadap perbedaan dapat terus di wariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan semangat tersebut, Festival Budaya Lintas Agama di Semarang di harapkan tetap menjadi simbol persatuan yang menginspirasi daerah lain di Indonesia.