IRGC – Konflik antara Iran dan Israel kembali memanas setelah muncul pernyataan keras dari Garda Revolusi Iran yang menargetkan Perdana Menteri Israel. Situasi ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah yang juga melibatkan Amerika Serikat serta kelompok-kelompok sekutu di kawasan.
Ketegangan yang semakin meningkat ini memunculkan berbagai ancaman terbuka dari kedua pihak. Pernyataan saling serang secara politik maupun militer memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya terjadi di medan perang. Tetapi juga dalam bentuk tekanan di plomatik dan propaganda.
Pernyataan Garda Revolusi Iran Terhadap Pemimpin Israel
Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada pertengahan Maret 2026 mengeluarkan pernyataan keras terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataan yang di publikasikan melalui media resmi mereka. IRGC menegaskan akan terus mengejar Netanyahu selama konflik antara kedua negara masih berlangsung.
IRGC menyebut pemimpin Israel tersebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas berbagai tindakan militer yang menyebabkan korban sipil. Dalam pernyataannya, mereka menegaskan bahwa upaya untuk mengejar Netanyahu akan dilakukan dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Pernyataan ini mencerminkan tingginya tensi politik dan militer yang berkembang sejak pecahnya konflik terbuka antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Retorika keras seperti ini juga menunjukkan bahwa konflik telah memasuki tahap yang lebih serius dan berpotensi memicu eskalasi lanjutan.
Pernyataan Netanyahu Mengenai Pemimpin Iran
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyampaikan pernyataan yang di anggap sebagai ancaman tidak langsung terhadap kepemimpinan Iran. Dalam konferensi pers yang berlangsung di Yerusalem pada pertengahan Maret 2026, Netanyahu menyatakan bahwa Israel tidak akan memberikan jaminan keselamatan kepada para pemimpin yang ia anggap sebagai bagian dari organisasi teroris.
Pernyataan tersebut di sampaikan dalam konferensi pers pertamanya setelah konflik antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat meningkat secara signifikan. Netanyahu menegaskan bahwa pemerintah Israel akan terus mengambil langkah-langkah yang di anggap perlu untuk menghadapi ancaman yang berasal dari Iran dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Ia juga menyampaikan bahwa Iran telah mengalami perubahan besar setelah serangkaian serangan udara yang menurut pemerintah Israel telah menargetkan berbagai fasilitas militer penting. Termasuk unit Garda Revolusi Iran dan kelompok paramiliter yang mendukung pemerintah Teheran.

Momen Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terlihat sedang teleponan tapi dengan kamera belakang ditutup stiker merah dan putih yang cukup tebal.
Ketegangan Dengan Hizbullah di Lebanon
Selain menghadapi Iran secara langsung, Israel juga menyoroti aktivitas kelompok Hizbullah di Lebanon yang di ketahui memiliki hubungan erat dengan pemerintah Iran. Israel menyatakan akan terus melakukan operasi militer terhadap kelompok tersebut setelah terjadi serangan roket yang di arahkan ke wilayah Israel pada awal Maret 2026.
Serangan tersebut di sebut sebagai bentuk respons atas kematian pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang di laporkan tewas pada fase awal konflik. Peristiwa tersebut menjadi salah satu faktor yang memperbesar eskalasi konflik di kawasan.
Ketika Netanyahu menyampaikan konferensi pers melalui sambungan video. Laporan mengenai sirene peringatan serangan rudal dari Iran juga terdengar di beberapa wilayah Israel bagian tengah. Hal ini menunjukkan bahwa situasi keamanan di kawasan masih sangat tidak stabil.
Tujuan Operasi Militer Israel Terhadap Iran
Pemerintah Israel menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran memiliki tujuan utama untuk mengurangi ancaman. Yang di anggap berasal dari program nuklir dan pengembangan rudal balistik Iran. Israel menilai kedua hal tersebut sebagai ancaman strategis bagi keamanan negaranya.
Selain itu, pemerintah Israel juga berharap tekanan militer yang di lakukan dapat memicu perubahan politik di Iran. Netanyahu menyatakan bahwa kondisi yang di ciptakan melalui tekanan militer di harapkan dapat membuka peluang bagi perubahan internal di negara tersebut.
Namun demikian, ia juga mengakui bahwa tidak ada jaminan bahwa strategi tersebut akan langsung menyebabkan perubahan pemerintahan di Iran. Menurutnya, perubahan politik biasanya terjadi melalui dinamika internal masyarakat suatu negara.
Awal Mula Konflik yang Memicu Eskalasi
Konflik besar yang terjadi di Timur Tengah pada tahun 2026 di ketahui bermula dari serangan militer. Yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan tersebut menargetkan berbagai fasilitas strategis dan menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas kawasan.
Serangan tersebut juga di laporkan menyebabkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa tersebut memicu respons keras dari pemerintah Iran yang kemudian melancarkan serangan balasan terhadap berbagai aset militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan Teluk.
Sejak saat itu, konflik terus berkembang dan melibatkan berbagai aktor regional. Ketegangan yang terus meningkat membuat situasi keamanan di Timur Tengah menjadi salah satu perhatian utama masyarakat internasional.