Pempek Palembang – memiliki perjalanan panjang sebelum dikenal sebagai salah satu kuliner paling populer dari Sumatera Selatan. Hidangan berbahan ikan dan tepung ini dahulu dikenal dengan nama kelesan. Pada mulanya, masyarakat membuat kelesan sebagai makanan keluarga sebelum akhirnya menjualnya secara luas.
Kini, pempek tidak hanya mudah ditemukan di Palembang. Berbagai daerah di Indonesia juga memiliki banyak penjual makanan tersebut. Popularitasnya bahkan membuat pempek semakin melekat dengan identitas Kota Palembang.
Perjalanan itu tidak terjadi dalam waktu singkat. Kondisi alam, ketersediaan ikan, kebiasaan masyarakat, hingga aktivitas perdagangan ikut memengaruhi perkembangan pempek dari masa ke masa.
Kelesan Menjadi Cikal Bakal Pempek Palembang
Sebelum masyarakat mengenalnya sebagai pempek, warga Palembang menyebut makanan ini sebagai kelesan. Farida R. Wargadalem dalam buku Pempek Sebagai Identitas Palembang menjelaskan perkembangan makanan tersebut berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat.
Pada awal perkembangannya, masyarakat membuat kelesan untuk konsumsi keluarga. Mereka memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. Lambat laun, makanan tersebut mulai dikenal oleh kerabat dan masyarakat di sekitar tempat tinggal pembuatnya.
Popularitas kelesan kemudian terus meningkat. Masyarakat mulai memproduksinya dalam jumlah lebih banyak karena permintaan bertambah. Dari sinilah kelesan perlahan berubah dari makanan rumah tangga menjadi komoditas kuliner.
Sejarawan Palembang Kemas A.R. Panji juga menyebut kelesan sebagai nama lama pempek. Memasuki awal abad ke-20, sekitar 1900-an, masyarakat mulai menjajakannya sebagai makanan komersial.
Kekayaan Alam Palembang Mendukung Perkembangan Pempek
Kemunculan kelesan memiliki hubungan erat dengan lingkungan geografis Palembang. Sungai Musi beserta anak-anak sungainya menjadi sumber berbagai jenis ikan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Selain ikan, bahan pangan lain yang berkaitan dengan pembuatan pempek sudah lama tersedia di kawasan tersebut. Catatan sejarah menunjukkan keberadaan tanaman sagu, kelapa, dan enau di wilayah Palembang sejak masa lampau.
Prasasti Talang Tuo dari 684 Masehi, misalnya, mencatat sejumlah tanaman yang tumbuh pada masa Sriwijaya. Catatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah itu telah mengenal berbagai sumber pangan sejak berabad-abad lalu.
Meski begitu, belum ada bukti sejarah yang benar-benar memastikan kapan masyarakat pertama kali membuat kelesan. Dugaan mengenai tradisi mencampurkan ikan dan sagu sejak era Sriwijaya masih memerlukan penelitian lebih mendalam.
Dengan demikian, keberadaan bahan baku sejak masa Sriwijaya tidak otomatis membuktikan bahwa bentuk pempek seperti sekarang sudah ada pada periode tersebut.
Peran Masyarakat Tionghoa dalam Perdagangan Pempek
Sejarah pempek juga kerap dikaitkan dengan masyarakat Tionghoa di Palembang. Namun, kaitan tersebut lebih banyak berhubungan dengan proses perdagangan dan penyebaran makanan.
Kemas A.R. Panji menjelaskan bahwa berbagai bahan untuk membuat pempek telah tersedia secara lokal. Ikan berasal dari perairan sekitar Sungai Musi, sedangkan masyarakat juga telah mengenal sagu dan aren.
Aren memiliki kaitan penting dengan cuko, yaitu kuah pendamping pempek yang memiliki cita rasa khas. Karena ketersediaan bahan tersebut, pempek berkembang dengan memanfaatkan kekayaan pangan setempat.
Masyarakat Tionghoa kemudian memiliki peran dalam memperluas perdagangan kelesan. Ketika makanan tersebut mulai dijual pada awal abad ke-20, aktivitas perdagangan membuat kelesan semakin mudah dikenal oleh masyarakat Palembang.

Ilustrasi pempek.
Asal-usul Nama Pempek
Perubahan nama dari kelesan menjadi pempek memiliki cerita yang menarik. Salah satu teori paling di kenal menghubungkannya dengan panggilan kepada pedagang keturunan Tionghoa.
Pedagang tersebut kerap mendapat sapaan “Apek”. Dalam bahasa Hokkian, istilah apeq atau empeq di gunakan sebagai panggilan untuk laki-laki yang lebih tua atau paman.
Saat ingin membeli kelesan, masyarakat kemudian memanggil penjual dengan sebutan “pek”, “apek”, atau “empek”. Karena panggilan itu terus di gunakan, masyarakat lambat laun menghubungkannya dengan makanan yang di jual.
Dari kebiasaan tersebut, nama kelesan secara perlahan bergeser menjadi empek-empek dan kemudian lebih populer dengan sebutan pempek.
Namun, terdapat versi lain mengenai asal nama tersebut. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan bunyi yang muncul ketika pembuat makanan mengolah adonan ikan dan sagu menggunakan papan. Meski demikian, teori mengenai panggilan “Apek” menjadi salah satu penjelasan yang paling sering muncul dalam pembahasan sejarah pempek.
Jenis Ikan untuk Pempek Semakin Beragam
Perkembangan pempek turut mendorong perubahan penggunaan bahan baku. Pada masa lalu, masyarakat Palembang banyak memanfaatkan ikan belido untuk menghasilkan cita rasa khas.
Seiring waktu, ketersediaan ikan tersebut semakin terbatas. Pembuat pempek kemudian memanfaatkan jenis ikan lain yang lebih mudah diperoleh.
Beberapa jenis ikan yang di gunakan antara lain gabus, toman, bujuk, sepat siam, tenggiri, kakap merah, dan seluang. Saat ini, ikan gabus dan tenggiri termasuk pilihan yang cukup populer untuk membuat pempek.
Perubahan bahan baku tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat mempertahankan tradisi kuliner dengan menyesuaikan kondisi lingkungan dan ketersediaan sumber pangan.
Dari Kelesan Lahir Beragam Jenis Pempek
Pempek juga mengalami perkembangan dari sisi bentuk dan cara penyajian. Kelesan atau pempek lenjer di anggap sebagai salah satu bentuk awal makanan tersebut.
Seiring meningkatnya kreativitas masyarakat, muncul berbagai variasi baru. Salah satu yang paling terkenal adalah pempek kapal selam dengan isian telur.
Selain kapal selam, masyarakat mengenal pempek telok, pempek tunu atau panggang, pempek belah, pempek pistel, hingga pempek lenggang. Setiap jenis menawarkan bentuk, isian, maupun cara pengolahan yang berbeda.
Keberagaman tersebut membuat pempek mampu bertahan sebagai makanan tradisional sekaligus mengikuti perkembangan selera masyarakat.
Pempek Menjadi Identitas Kuliner Palembang
Perjalanan pempek akhirnya melampaui fungsi awalnya sebagai makanan keluarga. Aktivitas perdagangan membawa makanan tersebut keluar dari Palembang dan memperkenalkannya kepada masyarakat dari berbagai daerah.
Penjual pempek kini dapat di temukan di banyak kota Indonesia. Sejumlah daerah di Pulau Jawa seperti Yogyakarta, Surabaya, hingga Ponorogo juga memiliki usaha yang menjual kuliner khas Palembang tersebut.
Popularitas pempek bahkan menjangkau konsumen di luar Indonesia, termasuk sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Bagi masyarakat Palembang, pempek juga mempunyai kedekatan tersendiri dalam kehidupan sehari-hari. Makanan ini dapat hadir dalam berbagai kesempatan dan tidak terbatas pada waktu tertentu.
Wisatawan yang datang ke Palembang pun sering menjadikan pempek sebagai buah tangan. Kebiasaan tersebut semakin memperkuat hubungan antara pempek dan citra Kota Palembang.
Perjalanan panjang dari kelesan hingga menjadi pempek menunjukkan bagaimana makanan tradisional dapat berkembang mengikuti perubahan masyarakat. Berawal dari dapur keluarga, kelesan masuk ke kegiatan perdagangan, melahirkan beragam variasi, kemudian menyebar ke berbagai daerah.
Pada akhirnya, pempek bukan sekadar hidangan berbahan ikan dan tepung. Kuliner tersebut membawa jejak sejarah, lingkungan, perdagangan, dan kreativitas masyarakat yang membuatnya terus bertahan sebagai salah satu identitas kuliner Palembang hingga sekarang.