Budaya Indonesia – di Australia semakin dikenal generasi muda melalui program Indonesia Goes to School (IGtS). Lebih dari 1.100 pelajar mengikuti kegiatan budaya yang berlangsung di dua sekolah di New South Wales. Melalui program tersebut, siswa tidak hanya menerima penjelasan tentang Indonesia. Sebaliknya, mereka terlibat langsung dalam kegiatan membatik, bermain angklung, mempelajari tarian, hingga mengenal Bahasa Indonesia.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney menggelar kegiatan pertama di International Grammar School Sydney pada 31 Juli 2026. Selanjutnya, program berlanjut di Claremont College Randwick pada 3 Agustus 2026.

Menariknya, IGtS menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman. Oleh karena itu, siswa dapat mengenal kebudayaan Nusantara melalui kegiatan yang kreatif dan interaktif. Selain menambah wawasan, pendekatan tersebut membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan.

Hampir 1.000 Pelajar Mengenal Budaya Indonesia

International Grammar School Sydney menjadi lokasi pertama pelaksanaan program. Dalam kegiatan tersebut, hampir 1.000 siswa mengunjungi Indonesia Country Room saat perayaan tahunan International Day.

Melalui acara tersebut, siswa mendapat kesempatan untuk mengenal kebudayaan dari berbagai negara. Sementara itu, Indonesia menghadirkan sejumlah aktivitas yang menggambarkan keberagaman seni dan tradisi Nusantara.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah lokakarya membatik. Melalui praktik tersebut, para siswa dapat mengenal proses pembuatan batik secara lebih dekat. Selain itu, mereka memperoleh gambaran mengenai nilai budaya yang terdapat dalam karya tradisional tersebut.

Tak hanya batik, angklung juga menjadi bagian penting dalam kegiatan. Para siswa mencoba memainkan alat musik bambu tersebut secara bersama-sama. Dengan demikian, mereka dapat memahami bahwa permainan angklung membutuhkan koordinasi serta kerja sama antarpemain.

Selain kegiatan seni, penyelenggara memperkenalkan pakaian tradisional dari sejumlah daerah. Para siswa dapat mencoba busana tersebut sekaligus mengabadikan pengalaman mereka di area bertema pariwisata Indonesia.

Kemudian, pengenalan Indonesia semakin lengkap melalui kuliner. Para peserta berkesempatan mencicipi makanan serta mengenal sejumlah produk Indonesia yang tersedia di Australia.

Claremont College Hadirkan Pengalaman Berbeda

Sementara itu, program di Claremont College Randwick melibatkan 125 pelajar. Berbeda dari kegiatan sebelumnya, para siswa mengikuti rangkaian pembelajaran yang menekankan pengalaman langsung.

Salah satunya adalah kegiatan membatik bersama perwakilan Desa Wisata Wukirsari dari Yogyakarta. Melalui aktivitas tersebut, peserta dapat melihat batik sebagai bagian dari kreativitas dan tradisi masyarakat Indonesia.

Selanjutnya, siswa mengenal kebudayaan Bali melalui Tari Narnir yang diperkenalkan Desa Wisata Taro. Mereka tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi juga mendapat kesempatan mempelajari unsur budaya yang menyertainya.

Selain itu, para siswa mencoba memainkan angklung dan membuat gelang persahabatan dari biji hanjeli. Berbagai aktivitas tersebut membuat pengenalan Indonesia menjadi semakin beragam.

Dengan pendekatan itu, siswa tidak hanya menjadi penonton. Sebaliknya, mereka berpartisipasi langsung sehingga pengalaman belajar terasa lebih nyata.

Bahasa Indonesia Diperkenalkan Secara Interaktif

Selain seni dan tradisi, Bahasa Indonesia mendapat tempat dalam rangkaian IGtS. Penyelenggara menghadirkan metode komunikatif agar siswa lebih mudah memahami penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, para siswa mengikuti simulasi tawar-menawar menggunakan Bahasa Indonesia. Melalui kegiatan tersebut, mereka dapat mempraktikkan kosakata dalam situasi sederhana.

Selain simulasi percakapan, sesi storytelling turut melengkapi pembelajaran. Balai Bahasa dan Budaya Indonesia (BBBI) NSW mendukung pelaksanaan kegiatan bahasa tersebut.

Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal kosakata. Mereka juga belajar menggunakan Bahasa Indonesia dalam konteks komunikasi yang lebih nyata.

Di sisi lain, pembelajaran bahasa membuka kesempatan bagi siswa untuk memahami kebiasaan masyarakat Indonesia. Sebab, bahasa memiliki hubungan erat dengan nilai, tradisi, dan kehidupan sosial suatu masyarakat.

Pelajar Australia mengenal budaya Indonesia melalui program Indonesia Goes to School.

Pelajar Claremont College Randwick mengikuti pembelajaran budaya Indonesia melalui workshop membatik, tari tradisional, permainan angklung, dan praktik Bahasa Indonesia dalam program Indonesia Goes to School di Sydney, Australia, 3 Agustus 2026.

Budaya Jadi Jembatan Indonesia dan Australia

Program Indonesia Goes to School tidak hanya membawa tujuan pendidikan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi salah satu sarana untuk mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Australia.

Hubungan kedua negara tidak hanya berkembang melalui kerja sama resmi antarpemerintah. Sebaliknya, interaksi antarmasyarakat juga memiliki peran penting dalam membangun kedekatan jangka panjang.

Oleh sebab itu, pengenalan budaya kepada pelajar Australia menjadi langkah yang relevan. Para siswa dapat memahami Indonesia sebagai negara tetangga yang memiliki kekayaan bahasa, tradisi, seni, dan pariwisata.

KJRI Sydney berharap pengalaman tersebut mampu meningkatkan rasa ingin tahu generasi muda Australia terhadap Indonesia. Selain itu, ketertarikan tersebut dapat mendorong mereka mempelajari Bahasa Indonesia pada masa mendatang.

Bahkan, pengalaman positif selama program berpotensi mendorong siswa untuk berkunjung langsung ke Indonesia.

Desa Wisata Indonesia Turut Diperkenalkan

Di samping kebudayaan, aspek pariwisata menjadi bagian dari program IGtS. Kementerian Pariwisata RI ikut mendukung kegiatan bersama sejumlah pihak.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Desa Wisata Taro dari Bali dan Desa Wisata Wukirsari dari Yogyakarta memperkenalkan potensi daerah masing-masing.

Melalui pengenalan tersebut, siswa memahami bahwa pariwisata Indonesia tidak hanya berpusat pada destinasi populer. Sebaliknya, berbagai desa menawarkan pengalaman yang berhubungan langsung dengan tradisi dan kehidupan masyarakat lokal.

Selain itu, siswa mendapat gambaran mengenai konsep pariwisata berkelanjutan. Konsep tersebut menempatkan budaya, lingkungan, serta masyarakat lokal sebagai bagian penting dalam pengembangan destinasi.

Oleh karena itu, desa wisata dapat menjadi contoh bagaimana pariwisata berjalan berdampingan dengan upaya menjaga warisan budaya.

Angklung Menarik Perhatian Lingkungan Sekolah

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Pihak Claremont College memberikan respons positif terhadap pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam IGtS.

Menurut pihak sekolah, kegiatan partisipatif membuat siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih autentik. Terlebih lagi, aktivitas kreatif membuat mereka lebih mudah terlibat selama proses pembelajaran.

Respons serupa muncul di International Grammar School Sydney. Bahkan, angklung berhasil menarik perhatian guru musik di sekolah tersebut.

Guru musik menunjukkan ketertarikan untuk menjajaki angklung sebagai bagian dari kegiatan seni musik. Dengan demikian, alat musik tradisional Indonesia berpeluang mendapat ruang dalam pembelajaran lintas budaya di Australia.

Ketertarikan tersebut juga menunjukkan bahwa budaya Indonesia dapat memberikan pengalaman pendidikan yang menarik bagi pelajar dari negara lain.

Diplomasi Budaya Menjangkau Generasi Muda

Sementara itu, pelaksanaan IGtS melibatkan berbagai pihak. KJRI Sydney bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata RI, BBBI NSW, serta pelaku seni dan budaya.

Selain itu, Dharma Wanita Persatuan KJRI Sydney dan diaspora Indonesia di Sydney turut mendukung rangkaian kegiatan.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan pentingnya pendidikan sebagai bagian dari diplomasi budaya. Pasalnya, hubungan antarnegara dapat tumbuh melalui interaksi sederhana yang memberikan pengalaman positif kepada masyarakat.

Melalui batik, angklung, tarian, bahasa, kuliner, dan desa wisata, siswa Australia memperoleh gambaran Indonesia dari berbagai sisi. Lebih penting lagi, mereka dapat merasakan sendiri sebagian dari kekayaan budaya tersebut.

Pada akhirnya, keterlibatan lebih dari 1.100 pelajar memberikan peluang bagi Indonesia untuk membangun kedekatan dengan generasi muda Australia. Oleh karena itu, program seperti IGtS dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan pemahaman lintas budaya.

Selain memperkenalkan kekayaan Nusantara, kegiatan tersebut juga memperkuat hubungan antarmasyarakat. Dengan demikian, budaya dapat menjadi salah satu fondasi untuk menjaga persahabatan Indonesia dan Australia pada masa mendatang.