Tradisi Panjang Jimat – kembali berlangsung di Keraton Kasepuhan Cirebon pada Rabu malam, 26 Agustus 2026. Prosesi yang menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dengan lantunan selawat yang terdengar di lingkungan keraton.
Masyarakat turut berdatangan dan memenuhi sejumlah area Keraton Kasepuhan untuk menyaksikan rangkaian tradisi tersebut. Kehadiran warga menunjukkan bahwa Panjang Jimat masih menjadi salah satu kegiatan budaya dan keagamaan yang mendapat perhatian masyarakat Cirebon.
Tidak hanya menjadi seremoni tahunan, Panjang Jimat menyimpan berbagai simbol yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Selain itu, tradisi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan nilai budaya keraton dengan kegiatan keagamaan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Iring-iringan Panjang Jimat Menuju Langgar Agung
Salah satu bagian penting dalam Panjang Jimat adalah perjalanan rombongan dari Bangsal Panembahan menuju Langgar Agung. Keluarga keraton bersama para pengiring mengikuti prosesi dengan membawa sejumlah perlengkapan yang telah dipersiapkan.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat, menjelaskan bahwa Bangsal Panembahan menjadi titik awal keberangkatan rombongan. Selanjutnya, peserta prosesi berjalan menuju Langgar Agung untuk mengikuti rangkaian kegiatan berikutnya.
Nuansa tradisional terlihat dari busana yang dikenakan para peserta. Keluarga keraton dan sejumlah pengiring menggunakan pakaian adat yang mencerminkan identitas Keraton Kasepuhan. Sementara itu, beberapa peserta lainnya mengenakan gamis berwarna putih.
Rombongan juga membawa berbagai jenis makanan dan perlengkapan. Nasi jimat menjadi salah satu sajian yang ikut dalam perjalanan tersebut. Selain itu, terdapat lauk-pauk, ikan bekasem, buah-buahan, serta sejumlah hidangan yang di tempatkan pada piring pusaka.
Air mawar dan banyu serbat juga menjadi bagian dari perlengkapan yang di bawa menuju Langgar Agung. Seluruh benda tersebut di perlakukan dengan penuh penghormatan karena memiliki fungsi dan makna tersendiri dalam tradisi Panjang Jimat.
Makna Filosofis di Balik Perlengkapan Panjang Jimat
Berbagai perlengkapan dalam prosesi Panjang Jimat tidak hanya berfungsi sebagai unsur pendukung upacara. Menurut Goemelar, sejumlah benda yang digunakan memiliki filosofi yang menggambarkan tahapan kelahiran manusia.
Salah satu simbol yang di gunakan adalah kembang goyang. Dalam tradisi tersebut, kembang goyang di kaitkan dengan ari-ari yang menyertai proses kelahiran seorang manusia.
Sementara itu, air mawar menggambarkan air ketuban. Adapun banyu serbat menjadi simbol darah yang keluar setelah seorang ibu melahirkan atau darah nifas.
Rangkaian simbol tersebut menunjukkan bahwa Panjang Jimat mempunyai lapisan makna yang lebih luas di bandingkan sekadar iring-iringan adat. Tradisi ini menghadirkan gambaran tentang awal kehidupan manusia sekaligus menghubungkannya dengan momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Karena itu, setiap perlengkapan di bawa dalam prosesi dengan tata cara tertentu. Rombongan kemudian mengantarkannya menuju Langgar Agung sebelum memasuki rangkaian kegiatan keagamaan.

Tradisi Panjang Jimat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan
Selawat dan Pembacaan Al-Barzanji di Langgar Agung
Setelah rombongan tiba di Langgar Agung, suasana prosesi semakin bernuansa religius. Masyarakat bersama pihak yang mewakili Sultan Sepuh mengikuti doa bersama sebagai bagian dari rangkaian Panjang Jimat.
Pembacaan kitab Al-Barzanji menjadi salah satu agenda utama. Kitab yang berisi kisah dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW tersebut di bacakan bersama lantunan selawat yang kembali menggema di kawasan keraton.
Goemelar menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memang berpusat pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu, memperbanyak selawat menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan tradisi.
Masyarakat yang hadir mengikuti kegiatan dengan khusyuk. Perpaduan antara prosesi adat dan aktivitas keagamaan tersebut sekaligus memperlihatkan karakter Panjang Jimat yang telah di wariskan secara turun-temurun di lingkungan Keraton Kasepuhan.
Panjang Jimat Menjadi Warisan Budaya dan Religi Cirebon
Bagi Keraton Kasepuhan, Panjang Jimat bukan hanya agenda seremonial yang berlangsung setiap tahun. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk pelestarian warisan budaya Cirebon sekaligus sarana mempertahankan nilai-nilai keagamaan yang telah berkembang sejak masa lampau.
Pelaksanaan tradisi secara berkelanjutan juga memungkinkan generasi muda mengenal berbagai simbol, tata cara, dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menyaksikan sebuah prosesi, tetapi juga dapat memahami pesan budaya yang di wariskan melalui setiap rangkaiannya.
Di sisi lain, keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Warga yang datang ke lingkungan keraton turut menjadi bagian dari ruang budaya yang menghubungkan kehidupan masyarakat masa kini dengan warisan para pendahulu.
Panjang Jimat sekaligus memperlihatkan bagaimana unsur adat dan nilai Islam dapat berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat Cirebon. Prosesi budaya tetap di pertahankan, sementara doa, pembacaan Al-Barzanji, dan selawat menjadi bagian utama dari kegiatan keagamaan.
Hingga kini, Panjang Jimat terus di selenggarakan sebagai puncak rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan Cirebon. Keberadaan tradisi tersebut tidak hanya memperkuat identitas budaya keraton, tetapi juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk menjaga ingatan terhadap warisan sejarah, mempererat hubungan sosial, serta menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui doa dan selawat.