Keris – Dosen Bahasa Indonesia di Beijing Foreign Studies University (BFSU), Hendy Yuniarto, membawa keris ke ruang kelas internasional di Tiongkok sebagai materi utama dalam kuliah budaya. Ia mengajak sekitar 15 mahasiswa untuk memahami keris sebagai bagian penting dari identitas budaya Indonesia yang masih hidup hingga sekarang.

Hendy menjelaskan konsep keris secara menyeluruh melalui pendekatan interaktif. Ia tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami nilai budaya melalui diskusi langsung dan pengalaman visual terhadap benda budaya tersebut.

UNESCO dan Makna Keris sebagai Warisan Budaya Takbenda

Hendy menekankan bahwa UNESCO menetapkan keris sebagai warisan budaya takbenda, bukan sekadar benda fisik. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia mewariskan keris melalui proses pembuatan, keterampilan, dan nilai-nilai filosofis yang berkembang dari generasi ke generasi.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya melihat keris sebagai senjata, tetapi juga sebagai hasil karya seni, simbol identitas, serta representasi pengetahuan tradisional yang terus hidup dalam komunitas pembuatnya.

Pengalaman Langsung Mahasiswa Melihat Keris Majapahit

Dalam sesi kuliah tersebut, Hendy memperlihatkan dua bilah keris kepada mahasiswa. Ia membawa salah satu keris dengan gaya Majapahit yang menampilkan warna emas mencolok dan ukiran naga yang menghiasi bilahnya.

Hendy menjelaskan perbedaan gaya keris berdasarkan periode sejarah. Ia mengajak mahasiswa memahami istilah “tangguh” yang merujuk pada gaya, teknik, dan asal-usul keris. Ia juga menyoroti nilai ekonomi tinggi yang sering melekat pada keris dengan gaya tertentu, terutama keris Majapahit yang berkaitan dengan kejayaan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara.

Mahasiswa kemudian mengamati keris secara langsung dan mendiskusikan detail bentuk, ukiran, serta filosofi di balik desainnya.

Jejak Keris dalam Sejarah Relief dan Naskah Kuno Nusantara

Hendy menghubungkan keris dengan berbagai bukti sejarah yang muncul di Indonesia. Ia menunjuk relief pada Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang menggambarkan bentuk senjata tradisional yang menyerupai keris. Ia menjelaskan bahwa bukti tersebut memperkuat keberadaan keris dalam kehidupan masyarakat Jawa sejak lebih dari seribu tahun lalu.

Ia juga mengangkat karya sastra Jawa kuno seperti Kakawin Arjunawiwaha dan Kakawin Sumanasantaka yang menyebut keris dalam konteks kepahlawanan dan peperangan. Ia menekankan bahwa karya sastra tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat kuno memaknai keris sebagai bagian penting dari kehidupan sosial dan spiritual.

Keris Indonesia

Dosen bahasa Indonesia di Beijing Foreign Studies University (BFSU) Hendy Yuniarto memperkenalkan keris sebagai warisan budaya takbenda Indonesia kepada mahasiswa China (10/6/2026).

Catatan Penjelajah Tiongkok tentang Keris Nusantara

Hendy memperluas pembahasan dengan menghadirkan catatan sejarah dari luar Nusantara. Ia menjelaskan isi naskah Yingya Shenglan karya Ma Huan yang mencatat perjalanan Laksamana Cheng Ho ke berbagai wilayah, termasuk Nusantara pada abad ke-15.

Ia mengutip deskripsi keris dalam naskah tersebut yang menyebutnya sebagai “bu la tou” atau belati khas masyarakat Jawa pada masa Kerajaan Majapahit. Ia juga menjelaskan bahwa catatan tersebut menggambarkan kebiasaan masyarakat yang membawa keris sejak usia anak-anak hingga dewasa.

Hendy menambahkan bahwa pembuat keris pada masa itu menggunakan bahan berkualitas tinggi seperti baja, emas, gading, dan cula badak untuk menciptakan gagang keris dengan ukiran rumit yang mencerminkan keahlian tingkat tinggi.

Keris dalam Budaya Populer Dunia Modern

Hendy juga menghubungkan keris dengan perkembangan budaya populer global. Ia menjelaskan bahwa beberapa karya modern mengambil inspirasi dari bentuk dan filosofi keris Indonesia.

Ia menyebut film animasi Raya and the Last Dragon yang menampilkan senjata utama terinspirasi dari keris. Ia juga menyoroti kemunculan elemen serupa dalam gim Diablo II yang menggunakan desain senjata dengan kemiripan pada keris.

Ia menegaskan bahwa budaya Indonesia mulai masuk ke ruang kreatif internasional melalui adaptasi visual dan konsep senjata tradisional seperti keris.

Fungsi Keris dalam Kehidupan Sosial dan Budaya Jawa

Hendy menjelaskan berbagai fungsi keris dalam masyarakat Jawa. Ia menyebut keris sebagai pusaka keluarga yang menyimpan nilai sejarah dan identitas. Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat menggunakan keris sebagai simbol kewibawaan, status sosial, dan representasi kekuasaan.

Selain itu, ia menguraikan dimensi spiritual keris yang mengandung nilai filosofis mendalam. Ia menekankan bahwa masyarakat Jawa memaknai keris sebagai media yang menghubungkan manusia dengan nilai moral, etika, dan keyakinan tradisional.

Antusiasme Mahasiswa dan Perspektif Global

Mahasiswa yang mengikuti kuliah menunjukkan minat tinggi terhadap materi keris. Salah satu mahasiswa yang pernah melakukan penelitian lapangan di Luwu, Sulawesi Selatan, menyampaikan apresiasi terhadap keberagaman keris di Indonesia.

Ia juga menyoroti perkembangan baru dalam dunia perkerisan, termasuk munculnya empu perempuan di Pulau Madura. Ia melihat fenomena tersebut sebagai bukti bahwa tradisi keris terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Kesimpulan: Keris sebagai Identitas Budaya Indonesia di Dunia

Kegiatan pembelajaran di BFSU menunjukkan peran penting diplomasi budaya dalam memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional. Hendy Yuniarto berhasil membawa keris keluar dari konteks lokal dan menghadirkannya sebagai simbol budaya yang memiliki nilai sejarah, seni, dan filosofi yang kuat.

Melalui pendekatan edukatif tersebut, keris tampil sebagai identitas budaya Indonesia yang tidak hanya hidup di masa lalu, tetapi juga terus berkembang dalam percakapan global modern.