Danau Toba – operasi pencarian terhadap seorang mahasiswa yang di laporkan hilang di kawasan wisata Air Terjun Situmurun, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, resmi di hentikan setelah berlangsung selama tujuh hari. Keputusan ini di ambil oleh Kantor Basarnas Kelas A Medan bersama tim SAR gabungan pada Sabtu sore (18/4/2026), menyusul tidak di temukannya tanda-tanda keberadaan korban hingga batas waktu pencarian sesuai prosedur.

Korban di ketahui bernama Christopher Rustam (21), seorang mahasiswa dari Universitas Katolik Santo Thomas Medan. Ia di laporkan hilang saat melakukan kegiatan wisata bersama rombongan kampus di lokasi air terjun yang berada di kawasan Danau Toba.

Kepala Basarnas Medan, Hery Marantika, menyampaikan bahwa seluruh upaya pencarian telah dilakukan secara maksimal. Namun, hingga hari ketujuh, korban belum berhasil di temukan sehingga operasi resmi di hentikan sesuai standar operasional yang berlaku.

Berbagai Metode Canggih Di kerahkan dalam Proses Pencarian

Selama proses pencarian, tim SAR gabungan mengerahkan berbagai metode dan teknologi untuk menemukan korban. Operasi di bagi menjadi tiga unit utama, yaitu Search and Rescue Unit (SRU), yang masing-masing memiliki tugas khusus di lapangan.

SRU pertama fokus pada pencarian bawah air dengan metode penyelaman di sejumlah titik yang di curigai. Tim juga menggunakan alat pendeteksi modern seperti sonar Aqua Eye untuk membantu mengidentifikasi objek di dalam air.

Sementara itu, SRU kedua melakukan penyisiran di permukaan air menggunakan perahu jenis LCR dengan jangkauan hingga radius tiga kilometer dari titik awal kejadian. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa arus ke area yang lebih luas.

SRU ketiga bertugas menggunakan teknologi Remotely Operated Vehicle (ROV) yang memungkinkan pencarian di lakukan secara lebih detail di bawah permukaan air tanpa membahayakan penyelam.

Kondisi Alam Danau Toba Jadi Tantangan Utama

Koordinator Pos SAR Danau Toba, Erikson Gultom, mengungkapkan bahwa kondisi alam di lokasi kejadian menjadi kendala besar dalam proses pencarian. Kedalaman danau yang ekstrem serta tekanan air yang berbeda dari laut membuat penyelaman tidak dapat di lakukan secara maksimal.

Tim penyelam di ketahui telah mencapai kedalaman sekitar 40 hingga 45 meter. Namun, dasar danau masih belum sepenuhnya dapat di jangkau karena faktor keselamatan.

Selain itu, visibilitas di dalam air sangat terbatas akibat kekeruhan yang di sebabkan oleh jatuhan air terjun. Struktur bebatuan di dasar perairan juga menyulitkan proses pencarian, sehingga memperkecil peluang untuk mendeteksi keberadaan korban secara akurat.

Danau Toba

Foto: Pada hari ketujuh Tim SAR Gabungan secara resmi menghentikan pencarian korban hanyut Cristopher Rustam (21) di Air Terjun Situmurun, perairan Danau Toba, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Jumat (17/4/2026) |Dokumentasi: Polres Toba.

Kronologi Kejadian Saat Wisata Kampus

Peristiwa tragis ini bermula pada Sabtu (11/4/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, korban bersama rombongan kampus yang berjumlah sekitar 59 orang melakukan perjalanan wisata menggunakan kapal menuju Air Terjun Situmurun.

Setibanya di lokasi, beberapa peserta, termasuk korban, memutuskan untuk berenang di sekitar area jatuhan air. Sekitar 20 menit kemudian, korban di laporkan mengalami kram pada bagian kaki saat berada di air.

Upaya penyelamatan sempat di lakukan oleh rekan korban dengan membawa pelampung dari kapal. Namun, sebelum bantuan berhasil di berikan, korban di duga terseret arus kuat di sekitar air terjun dan menghilang.

Keterangan dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa arus di lokasi tersebut cukup deras dan berpotensi membahayakan, terutama bagi pengunjung yang berenang terlalu dekat dengan titik jatuhan air.

Keluarga Ikhlas, Operasi Beralih ke Tahap Pemantauan

Penghentian operasi pencarian di lakukan setelah melalui evaluasi bersama antara tim SAR dan pihak keluarga korban. Keluarga di sebut telah menerima keputusan tersebut dengan ikhlas, setelah melihat berbagai upaya maksimal yang di lakukan selama proses pencarian.

Meski operasi resmi di hentikan, pihak SAR memastikan bahwa pemantauan tetap akan dilakukan. Jika nantinya di temukan tanda-tanda keberadaan korban, seperti muncul di permukaan air, tim akan segera melakukan evakuasi.

Seluruh personel yang terlibat dalam operasi ini, termasuk dari Basarnas, TNI AL, BPBD, kepolisian, serta relawan, telah di kembalikan ke satuan masing-masing setelah penutupan operasi.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan risiko yang ada di destinasi wisata alam, khususnya di kawasan perairan dengan kondisi ekstrem seperti Danau Toba.