Papua – Pemerintah Indonesia terus mendorong setiap daerah untuk mengembangkan komoditas pangan lokal sesuai potensi wilayah masing-masing. Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, menegaskan pentingnya pendekatan tersebut saat mengunjungi Kabupaten Asmat, Papua Selatan.

Ia menilai setiap daerah memiliki kekayaan pangan yang dapat memperkuat ketahanan pangan nasional jika di kelola dengan tepat. Salah satu contoh nyata pengembangan tersebut muncul melalui program Sekolah Lapang Sagu di Distrik Agats, Kabupaten Asmat.

Dalam kunjungan pada Minggu, Wapres melihat langsung kegiatan masyarakat yang mengolah sagu sebagai sumber pangan utama. Ia menyampaikan apresiasi terhadap program tersebut karena masyarakat lokal dapat belajar sekaligus mengembangkan potensi ekonomi dari bahan pangan tradisional.

Sekolah Lapang Sagu Bangun Kemandirian Masyarakat

Program Sekolah Lapang Sagu di Asmat menghadirkan pendekatan berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat adat. Masyarakat tidak hanya mengenal sagu sebagai bahan makanan pokok, tetapi juga memahami proses pengolahan yang lebih bernilai ekonomis.

Wapres Gibran menegaskan pentingnya dukungan berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan program seperti ini. Ia mengajak tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk ikut berperan aktif dalam memastikan program berjalan baik di lapangan.

Ia juga melihat program ini sebagai contoh konkret penguatan ekonomi lokal yang tumbuh dari masyarakat sendiri. Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan warga di daerah terpencil.

Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat Perkuat Ketahanan Pangan

Wapres menyoroti pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat dalam mengembangkan pangan lokal. Ia menilai banyak inisiatif serupa sudah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di tingkat akar rumput.

Ia juga menyampaikan bahwa organisasi keagamaan di Asmat turut berperan dalam mendukung pengembangan pangan berbasis sagu. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kekuatan sosial masyarakat.

Dalam forum Pekan Nasional Petani Nelayan (Penas) XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Wapres kembali menegaskan pentingnya memperkuat pangan lokal sebagai strategi jangka panjang. Ia mendorong pemerintah untuk memperluas program yang berhasil agar daerah lain bisa menerapkannya.

Wapres Gibran

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan) disambut tarian suku Asmat saat meninjau Sekolah Lapang Sagu Keuskupan Agats di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Minggu (21/6/2026).

Sagu Jadi Sumber Ekonomi dan Identitas Budaya Asmat

Wapres Gibran menyaksikan langsung proses pengolahan sagu yang dilakukan oleh masyarakat adat Suku Asmat. Ia melihat bagaimana masyarakat memanfaatkan batang sagu mulai dari proses pengolahan hingga menjadi bahan pangan siap konsumsi.

Masyarakat di Asmat tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mengembangkan keterampilan pengolahan sagu agar memiliki nilai tambah. Mereka memanfaatkan pengetahuan turun-temurun untuk menjaga keberlanjutan sumber pangan utama di wilayah tersebut.

Selain menyaksikan proses produksi, Wapres juga berinteraksi dengan warga dan membagikan perlengkapan sekolah kepada anak-anak di sekitar lokasi. Ia ingin mendorong peningkatan kualitas pendidikan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia di daerah.

Pengembangan Kawasan Sekolah Lapang Sagu

Kawasan Sekolah Lapang Sagu di Asmat memiliki luas sekitar enam hektare. Keuskupan Agats bersama pemerintah daerah mengelola kawasan tersebut melalui kerja sama yang melibatkan masyarakat lokal secara langsung.

Area tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat pengembangan produk turunan sagu. Masyarakat mengolah sagu menjadi berbagai produk bernilai jual yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

Program ini membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis pangan lokal. Anak muda di Asmat juga mulai terlibat dalam kegiatan ini sehingga regenerasi pengetahuan tetap berjalan.

Arah Kebijakan Penguatan Pangan Lokal

Pemerintah terus memperluas fokus pada penguatan komoditas pangan lokal di berbagai daerah. Wapres menilai strategi ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan saja dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ia mendorong agar model Sekolah Lapang Sagu di Asmat dapat di terapkan di wilayah lain yang memiliki potensi serupa. Pemerintah juga berupaya memperkuat dukungan infrastruktur, pelatihan, dan akses pasar untuk produk pangan lokal.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen yang mandiri. Setiap daerah dapat mengoptimalkan sumber daya lokal untuk menciptakan nilai ekonomi baru.

Penutup: Pangan Lokal sebagai Kekuatan Masa Depan

Program Sekolah Lapang Sagu di Asmat menunjukkan bahwa pangan lokal dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan ekonomi daerah. Masyarakat dapat mengembangkan potensi yang sudah lama mereka miliki dengan pendekatan yang lebih modern dan terarah.

Dukungan pemerintah, tokoh masyarakat, dan lembaga lokal menciptakan ekosistem yang memperkuat kemandirian pangan. Model seperti ini membuka jalan bagi Indonesia untuk membangun ketahanan pangan yang lebih merata dan berkelanjutan di seluruh wilayah.