Lululemon – Merek pakaian olahraga Lululemon menghadapi kritik setelah menggelar acara yoga di Tembok Besar China. Acara tersebut berlangsung pada 30 Mei 2026 dan menghadirkan lebih dari 2.000 peserta.

Menurut laporan Global Times, acara itu bertujuan mempromosikan budaya dan gaya hidup sehat di China. Namun, publik kemudian menyoroti sejumlah aspek dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Lululemon sebelumnya merilis siaran pers terkait festival tersebut. Namun, perusahaan kemudian menghapus informasi itu dari kanal resmi mereka setelah kontroversi muncul.

Penampilan Musik Picu Perdebatan Publik

Dalam acara tersebut, aktor China Zhu Yilong turut hadir sebagai bintang tamu. Ia dikenal melalui berbagai karya seperti Guardian, The Story of Minglan, dan Lighting Up the Stars.

Zhu Yilong ikut tampil bersama kelompok penabuh drum dalam salah satu sesi pertunjukan. Kelompok tersebut memainkan alat musik yang disebut sebagai drum tradisional Tiongkok.

Namun, sejumlah warganet dan musisi mempertanyakan asal-usul alat musik tersebut. Mereka menilai bentuk drum itu lebih mirip dengan drum Taiko asal Jepang.

Kedua jenis drum tersebut memang memiliki bentuk besar dengan material kayu dan kulit hewan. Selain itu, keduanya juga memiliki sejarah panjang yang saling memengaruhi satu sama lain di kawasan Asia Timur.

Meski demikian, perkembangan budaya membuat keduanya memiliki identitas yang berbeda. Karena itu, perdebatan muncul ketika penonton menilai pertunjukan tersebut kurang tepat secara budaya.

Seorang pemain perkusi China, Xu Yang, juga menyampaikan pandangannya melalui media sosial Weibo. Ia menilai bentuk dan gaya permainan drum tersebut lebih mendekati tradisi Taiko Jepang.

Ia juga menekankan bahwa setiap bentuk seni memiliki karakter budaya masing-masing. Oleh karena itu, ia meminta publik tidak mencampuradukkan identitas budaya yang berbeda.

Kontroversi Meluas di Media Sosial China

Isu tersebut dengan cepat menyebar di platform media sosial China, terutama Weibo. Diskusi publik berkembang menjadi perdebatan luas tentang sensitivitas budaya di ruang publik.

Sebagian warganet menilai pemilihan lokasi Tembok Besar China memperkuat sensitivitas isu tersebut. Mereka menganggap situs bersejarah itu memiliki makna simbolis yang sangat kuat.

Selain itu, beberapa komentar juga mengaitkan pertunjukan tersebut dengan isu sejarah dan memori perang di kawasan Asia Timur. Hal ini membuat diskusi semakin emosional di kalangan publik.

Menurut laporan Global Times, topik ini telah menarik lebih dari 50 juta tayangan di Weibo pada pertengahan Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu tersebut.

Lululemon

Sejumlah peserta mengikuti yoga di Tembok Besar China yang digelar Lululemon.

Tanggapan Agensi dan Permintaan Maaf Lululemon

Agensi aktor Zhu Yilong kemudian memberikan tanggapan resmi pada 16 Juni 2026. Mereka meminta Lululemon untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penyelenggaraan acara.

Agensi tersebut juga menegaskan bahwa Zhu Yilong selalu mendukung promosi budaya tradisional China. Oleh karena itu, mereka meminta klarifikasi lebih lanjut terkait kontroversi yang muncul.

Pada hari yang sama, Lululemon mengeluarkan pernyataan resmi. Perusahaan menyampaikan bahwa acara tersebut bertujuan memberikan penghormatan kepada budaya China.

Namun, Lululemon juga mengakui adanya keterbatasan dalam proses perencanaan. Perusahaan menyebut mereka tidak sepenuhnya memahami potensi kontroversi sejak awal.

Selain itu, Lululemon menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan pihak terkait. Perusahaan juga berjanji akan memperketat proses evaluasi untuk kegiatan mendatang.

Setelah itu, Lululemon menghapus seluruh konten promosi terkait acara tersebut dari situs web dan media sosial mereka.

Grup Penampil dan Reaksi Lanjutan Publik

Grup drum HIIKO yang tampil dalam acara tersebut juga menyampaikan permintaan maaf. Mereka menyatakan telah menangguhkan seluruh promosi dan penggunaan eksternal terkait alat musik yang dipermasalahkan.

Meski demikian, sebagian warganet tetap menyampaikan ketidakpuasan terhadap respons tersebut. Mereka menilai penjelasan yang diberikan belum cukup menjawab kekhawatiran publik.

Banyak komentar menekankan pentingnya ketelitian dalam memilih simbol budaya, terutama di lokasi bersejarah. Publik meminta penyelenggara acara lebih berhati-hati di masa depan.

Lululemon dan Isu Sensitivitas Budaya di China

Kasus ini menambah daftar panjang perusahaan global yang menghadapi kontroversi di China. Isu sensitivitas budaya dan geopolitik sering menjadi tantangan bagi merek internasional.

Sebelumnya, beberapa merek besar seperti H&M dan Nike juga menghadapi boikot di China pada 2021. Saat itu, kontroversi muncul terkait isu rantai pasok kapas di wilayah Xinjiang.

Dengan demikian, kasus Lululemon kembali menunjukkan pentingnya pemahaman budaya lokal bagi perusahaan global. Kesalahan kecil dalam interpretasi budaya dapat memicu reaksi luas di ruang publik digital.