Sumba Barat – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di kenal sebagai wilayah yang kaya akan tradisi dan budaya lokal yang masih terjaga hingga saat ini. Beragam upacara adat seperti Reba, Lepa Bura, Elkoil Oot, dan Pasola. Telah banyak di kenal secara luas sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Selain tradisi tersebut, terdapat pula sebuah ritual adat yang memiliki makna mendalam. Namun belum banyak di kenal, yaitu Upacara Adat Zairo yang berasal dari Sumba Barat.
Upacara Adat Zairo merupakan salah satu bentuk ritual tradisional yang berkaitan erat dengan sistem kepercayaan masyarakat agraris Sumba Barat. Tradisi ini dilakukan sebagai respons terhadap kegagalan panen padi yang di yakini bukan sekadar peristiwa alam biasa. Melainkan memiliki di mensi spiritual. Dalam kepercayaan lokal, padi tidak hanya di pandang sebagai sumber pangan. Tetapi juga sebagai entitas yang memiliki jiwa dan roh yang harus di hormati.
Makna Filosofis Upacara Adat Zairo
Berbeda dengan tradisi panen pada umumnya yang di laksanakan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang melimpah, Upacara Adat Zairo justru memiliki tujuan yang berlawanan. Ritual ini di laksanakan sebagai wujud permohonan maaf kepada Dewi Padi, sosok yang di percaya sebagai pelindung dan penjaga tanaman padi.
Masyarakat Sumba Barat meyakini bahwa kegagalan panen yang terjadi di sebabkan oleh terganggunya jiwa atau roh padi. Gangguan tersebut dapat berasal dari faktor alam seperti cuaca ekstrem, badai, atau sambaran petir yang di anggap mampu “membakar” atau menghilangkan jiwa padi. Ketika hal ini terjadi, roh padi di percaya akan melayang tanpa arah sehingga menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berbuah secara optimal.
Oleh karena itu, Upacara Zairo di maknai sebagai proses spiritual untuk memanggil kembali jiwa dan semangat padi agar kembali menyatu dengan tanaman. Dengan melakukan ritual ini, masyarakat berharap keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia spiritual dapat di pulihkan sehingga panen di masa mendatang akan memberikan hasil yang lebih baik.

Ilustrasi : Prosesi Upacara Adat Zairo yang dilakukan oleh masyarakat Sumba Barat
Prosesi Pelaksanaan Upacara Adat Zairo
Pelaksanaan Upacara Adat Zairo dilakukan dengan rangkaian prosesi yang sarat akan nilai simbolik. Ritual ini umumnya di laksanakan di rumah adat atau di area lahan pertanian tempat terjadinya kegagalan panen. Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk pendekatan langsung kepada alam dan roh padi yang di yakini bersemayam di tempat tersebut.
Dalam prosesi upacara, masyarakat akan berkumpul untuk melakukan doa bersama yang di pimpin oleh tokoh adat atau tetua kampung. Doa-doa tersebut berisi permohonan maaf, harapan keselamatan, serta permintaan agar kegagalan panen tidak terus berulang. Selain doa, ritual ini juga di sertai dengan perjamuan adat sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas sosial.
Persembahan menjadi unsur penting dalam Upacara Zairo. Hewan kurban seperti ayam atau babi di siapkan sebagai sesajen, di sertai dengan minuman tradisional. Persembahan ini di yakini sebagai bentuk penghormatan sekaligus media komunikasi antara manusia dengan Dewi Padi. Melalui persembahan tersebut, masyarakat berharap permohonan mereka dapat di terima dan membawa dampak positif bagi kehidupan pertanian mereka.
Keberlanjutan Tradisi Upacara Zairo di Era Modern
Menariknya, meskipun berbagai perubahan sosial dan modernisasi terus berlangsung. Upacara Adat Zairo masih tetap di pertahankan oleh masyarakat Sumba Barat hingga saat ini. Keberlangsungan tradisi ini menunjukkan kuatnya nilai budaya dan kepercayaan lokal yang di wariskan secara turun-temurun.
Upacara Zairo tidak hanya berfungsi sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya dan penguatan identitas komunitas. Melalui ritual ini, nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap alam. Serta kesadaran akan keseimbangan hidup terus di tanamkan kepada generasi muda. Dengan demikian, Upacara Adat Zairo menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Sumba Barat.