Paris Saint-Germain kembali mencatatkan prestasi dengan menjuarai Piala Super Prancis atau Trophée des Champions. Gelar tersebut di raih setelah PSG melewati pertandingan sengit melawan Olympique Marseille yang berlangsung di Stadion Internasional Jaber Al Ahmad, Kuwait. Laga ini menjadi pembuka musim yang sarat gengsi dan tekanan tinggi.
Meski tidak tampil dominan, PSG mampu menunjukkan daya juang yang kuat. Sepanjang pertandingan, tim asuhan Luis Enrique menghadapi perlawanan ketat dari Marseille. Situasi tersebut membuat laga berjalan intens dan penuh dinamika hingga menit akhir.
Pertandingan Berjalan Ketat dan Menantang
Sejak awal pertandingan, kedua tim langsung bermain terbuka. Marseille tampil agresif dan berani menekan lini pertahanan PSG. Akibatnya, PSG kesulitan mengembangkan permainan seperti biasanya.
Namun demikian, PSG tetap berusaha menjaga keseimbangan. Meski sempat tertinggal, para pemain tidak kehilangan fokus. Tekanan demi tekanan justru memacu tim untuk bermain lebih disiplin dan efektif.
Luis Enrique mengakui bahwa laga tersebut tidak mudah. Menurutnya, Marseille mampu menguji kesiapan fisik dan mental para pemain PSG. Oleh karena itu, kemenangan ini di nilai memiliki makna lebih dari sekadar trofi.
Karakter Tim Menjadi Kunci Kebangkitan
Setelah berada dalam posisi tertekan, PSG mampu merespons dengan baik. Gol penyama kedudukan menjadi titik balik yang penting. Pada fase ini, mentalitas tim terlihat jelas. Selain itu, PSG menunjukkan karakter sebagai tim yang tidak mudah menyerah. Setiap pemain berusaha menjalankan perannya dengan maksimal.
Kerja sama tim menjadi faktor utama yang menjaga PSG tetap kompetitif hingga pertandingan berakhir. Luis Enrique menilai situasi tersebut sebagai bukti kedewasaan tim. Menurutnya, kemampuan bangkit dalam kondisi sulit merupakan ciri tim juara.

Para pemain PSG merayakan gelar juara setelah memenangkan pertandingan sepak bola Piala Super Perancis (Trophee des Champions) antara Paris Saint-Germain (PSG) vs Olympique de Marseille (OM) di Stadion Internasional Jaber Al-Ahmad di Kota Kuwait pada 8 Januari 2026.
Adu Penalti dan Ketegangan Penentuan
Karena skor tetap imbang hingga waktu normal usai, pertandingan harus di tentukan melalui adu penalti. Dalam kondisi ini, tekanan mental meningkat tajam. Sementara itu, PSG tampil lebih tenang saat mengeksekusi penalti. Konsentrasi dan kepercayaan diri para pemain menjadi pembeda.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kesiapan mental yang telah di bangun sepanjang pertandingan. Luis Enrique menyebut bahwa faktor keberuntungan memang ada. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kesiapan tim menjadi elemen paling menentukan.
Gonçalo Ramos Disebut Sebagai Pejuang
Salah satu pemain yang mendapat sorotan khusus adalah Gonçalo Ramos. Luis Enrique menyebutnya sebagai sosok pejuang yang selalu siap dimainkan kapan pun di butuhkan. Menurut Enrique, Ramos memiliki sikap profesional yang tinggi. Ia tidak mempermasalahkan durasi bermain. Sebaliknya, ia selalu berusaha memberi dampak positif bagi tim.
Selain Ramos, kontribusi pemain lain juga patut diapresiasi. Gol PSG dicetak oleh Ousmane Dembélé dan Gonçalo Ramos. Di sisi lain, Marseille mencetak gol melalui Mason Greenwood serta satu gol bunuh diri dari Willian Pacho.
Arti Penting Gelar bagi PSG
Gelar Piala Super Prancis ini memiliki arti strategis bagi PSG. Selain menjadi pembuka musim, kemenangan ini meningkatkan kepercayaan diri tim. Dukungan dari para pendukung juga menjadi faktor motivasi tambahan.
Oleh karena itu, keberhasilan ini di harapkan menjadi fondasi kuat untuk menghadapi kompetisi berikutnya. PSG tidak hanya menunjukkan kualitas teknis, tetapi juga kekuatan mental dan kebersamaan tim. Dengan demikian, kemenangan atas Marseille menegaskan bahwa PSG tetap menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Prancis.