KBRI Phnom Penh – Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh terus berupaya menangani meningkatnya laporan dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Kamboja. Lonjakan laporan tersebut terjadi seiring dengan bertambahnya jumlah WNI yang keluar dari jaringan penipuan daring. Situasi ini menuntut respons cepat serta penanganan yang terkoordinasi agar kepulangan WNI dapat berlangsung aman dan tertib.

Berdasarkan asesmen awal yang dilakukan, tidak seluruh laporan menunjukkan indikasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Oleh karena itu, proses verifikasi menjadi langkah penting sebelum penentuan kebijakan lanjutan. Pendekatan ini di lakukan untuk memastikan perlindungan di berikan secara tepat sasaran dan proporsional.

Asesmen sebagai Tahap Awal Penanganan

Asesmen menjadi fondasi utama dalam proses penanganan laporan WNI. Melalui tahapan ini, KBRI menelusuri latar belakang keberangkatan, kondisi kerja, serta situasi aktual para pelapor. Dengan demikian, klasifikasi kasus dapat dilakukan secara objektif dan terukur.

Selain itu, asesmen dilakukan secara bertahap guna menghindari kesalahan identifikasi. Hingga akhir Januari 2026, sebagian besar laporan telah di tindaklanjuti. Namun demikian, hasil awal menunjukkan bahwa sekitar setengah dari laporan tidak mengarah pada indikasi TPPO. Fakta ini memperlihatkan pentingnya klarifikasi sebelum menetapkan status korban.

Fasilitasi Kepulangan WNI ke Indonesia

Setelah proses asesmen, perhatian selanjutnya di arahkan pada upaya pemulangan. Sebagian WNI telah kembali ke Indonesia melalui mekanisme kepulangan mandiri. Meskipun jumlahnya belum signifikan, langkah ini menunjukkan adanya progres dalam penanganan kasus.

Sementara itu, KBRI tetap memberikan pendampingan administratif. Fasilitasi di lakukan agar WNI dapat memenuhi persyaratan keimigrasian yang berlaku. Dengan cara ini, proses kepulangan dapat berjalan tanpa hambatan hukum di kemudian hari.

Percepatan Penerbitan Dokumen Perjalanan

Di sisi lain, keterbatasan dokumen menjadi tantangan utama bagi banyak WNI. Untuk mengatasi hal tersebut, KBRI mempercepat penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Dokumen ini berfungsi sebagai pengganti paspor bagi WNI yang kehilangan atau tidak lagi memilikinya.

Selain itu, dukungan teknis dari instansi terkait turut mempercepat proses ini. Tim tambahan di kerahkan langsung ke lapangan untuk membantu verifikasi dan pencetakan dokumen. Oleh karena itu, proses administrasi dapat di selesaikan dalam waktu yang lebih singkat.

Penanganan WNI di Kamboja oleh KBRI Phnom Penh

Ribuan WNI yang keluar dari sindikat scam Kamboja mendatangi kantor KBRI Phnom Penh

Koordinasi dengan Otoritas Kamboja

Koordinasi lintas negara menjadi aspek penting dalam penanganan WNI di Kamboja. KBRI secara aktif menjalin komunikasi dengan otoritas setempat, khususnya dalam hal pelanggaran keimigrasian. Upaya ini bertujuan untuk memperoleh keringanan sanksi bagi WNI yang mengalami overstay.

Sebagai hasil dari koordinasi tersebut, ratusan WNI memperoleh keringanan denda. Setelah itu, mereka di arahkan untuk segera mengatur perjalanan pulang. Dengan demikian, potensi penumpukan di lokasi penampungan dapat di minimalkan.

Imbauan dan Perlindungan bagi Kelompok Rentan

Selain aspek administratif, KBRI juga memberikan perhatian terhadap kondisi kemanusiaan. Kelompok rentan menjadi prioritas, termasuk WNI yang mengalami gangguan kesehatan. Dalam konteks ini, fasilitasi perawatan medis terus di berikan sesuai kebutuhan.

Lebih lanjut, KBRI mengimbau para WNI untuk segera memproses kepulangan setelah memperoleh dokumen dan keringanan sanksi. Imbauan ini di sampaikan untuk menjaga ketertiban serta menghindari keterbatasan kapasitas penampungan. Pada saat yang sama, komunikasi dengan keluarga di Indonesia di nilai penting, terutama terkait dukungan biaya kepulangan.

Penutup

Secara keseluruhan, langkah yang di tempuh KBRI Phnom Penh menunjukkan komitmen negara dalam melindungi WNI di luar negeri. Melalui asesmen yang sistematis, fasilitasi dokumen perjalanan, serta koordinasi dengan otoritas setempat, proses penanganan laporan dapat dilakukan secara efektif. Oleh karena itu, pendekatan ini di harapkan mampu memberikan solusi yang berkelanjutan dalam menghadapi dinamika migrasi tenaga kerja Indonesia di kawasan regional.