Kasus dugaan penipuan investasi kripto yang menyeret nama influencer keuangan Timothy Ronald kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah korban mengaku mengalami kerugian finansial dalam jumlah besar setelah mengikuti rekomendasi investasi yang di promosikan melalui komunitas edukasi kripto yang di kelola oleh yang bersangkutan. Janji keuntungan fantastis hingga ratusan persen menjadi faktor utama yang mendorong korban untuk bergabung.

Janji Keuntungan Fantastis Menjadi Daya Tarik Utama

Salah satu korban berinisial Younger mengungkapkan bahwa dirinya tertarik untuk mengikuti investasi kripto setelah menerima paparan materi yang menjanjikan imbal hasil sangat tinggi. Dalam materi tersebut, di tampilkan klaim bahwa modal kecil dapat berkembang menjadi nilai fantastis dalam waktu relatif singkat. Bahkan di sebutkan bahwa dana jutaan rupiah berpotensi berubah menjadi miliaran rupiah hanya dengan mengikuti sinyal perdagangan tertentu.

Narasi keuntungan instan tersebut di sertai dokumen digital yang berisi bukti transaksi dan analisis pasar. Hal ini membuat korban semakin yakin bahwa investasi yang di tawarkan aman dan menguntungkan. Younger pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti arahan pembelian aset kripto tertentu, termasuk salah satu koin yang kemudian mengalami penurunan tajam.

Realita Kerugian Setelah Bergabung Investasi

Alih-alih memperoleh keuntungan, Younger justru mengalami kerugian signifikan sejak awal berinvestasi. Setelah melakukan pembelian aset kripto pada Maret 2025, nilai aset yang di milikinya turun drastis hingga sekitar 60 persen hanya dalam hitungan bulan. Ironisnya, meskipun harga terus merosot, korban justru di arahkan untuk kembali melakukan pembelian tambahan dengan harapan harga akan kembali naik.

Situasi tersebut membuat kerugian semakin membesar. Younger mengaku tidak pernah menarik dana karena terus di yakinkan untuk menahan aset dan kembali berinvestasi. Hingga akhirnya, total dana yang hilang mencapai angka yang sangat besar, yakni sekitar Rp 3 miliar, tanpa pernah merasakan keuntungan nyata.

Gaya Hidup Mewah Influencer Memengaruhi Keputusan Korban

Ketertarikan awal korban terhadap investasi kripto tidak lepas dari citra kesuksesan yang di tampilkan oleh sang influencer di media sosial. Konten yang menonjolkan gaya hidup mewah, kepemilikan mobil mahal, serta narasi kesuksesan di usia muda memberikan kesan bahwa kekayaan tersebut diperoleh dari aktivitas investasi kripto.

Paparan visual tersebut membangun kepercayaan dan persepsi bahwa strategi yang digunakan benar-benar terbukti berhasil. Akhirnya, Younger memutuskan untuk bergabung sebagai anggota komunitas edukasi kripto dengan membayar biaya keanggotaan yang tidak sedikit.

Ilustrasi korban dugaan penipuan investasi kripto oleh influencer keuangan

Younger saat di temui di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (13/1/2026)

Biaya Keanggotaan Akademi Kripto yang Tidak Murah

Untuk dapat mengakses materi dan sinyal perdagangan, korban di wajibkan membayar biaya keanggotaan awal. Seiring waktu, korban kembali di tawari paket keanggotaan lanjutan dengan klaim manfaat yang lebih besar dan akses seumur hidup. Total dana yang di keluarkan Younger untuk biaya keanggotaan komunitas kripto tersebut mencapai puluhan juta rupiah.

Biaya ini di anggap sebanding dengan potensi keuntungan yang di janjikan. Namun, kenyataannya, pengeluaran tersebut justru menambah beban kerugian yang harus di tanggung korban.

Dugaan Intimidasi dan Ancaman terhadap Korban

Selain kerugian finansial, korban juga mengaku mengalami tekanan psikologis berupa dugaan intimidasi. Younger menyebut menerima ancaman melalui pesan video yang membuatnya merasa khawatir terhadap keselamatan dirinya dan keluarganya. Perlakuan verbal yang tidak pantas juga di alami korban saat menyampaikan keluhan terkait kerugian yang di alaminya.

Kuasa hukum korban menilai tindakan tersebut sebagai upaya untuk membungkam kritik dan mencegah korban menyuarakan pengalaman mereka ke publik. Rasa takut menghadapi figur yang di anggap memiliki pengaruh besar membuat sebagian korban memilih diam dan enggan melapor.

Laporan Resmi ke Polda Metro Jaya

Kasus ini akhirnya berlanjut ke ranah hukum. Timothy Ronald telah di laporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penipuan investasi perdagangan aset kripto. Laporan tersebut di ajukan oleh salah satu korban dan di konfirmasi oleh pihak kepolisian.

Berdasarkan informasi yang beredar, laporan itu melibatkan sejumlah anggota komunitas kripto yang merasa di rugikan. Mereka menduga adanya ajakan investasi yang bertujuan untuk keuntungan pribadi dengan memanfaatkan kepercayaan anggota komunitas.

Pentingnya Literasi dan Kehati-hatian dalam Investasi Kripto

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengikuti investasi, terutama yang di promosikan oleh figur publik di media sosial. Janji keuntungan besar dalam waktu singkat perlu di sikapi secara kritis, di sertai pemahaman risiko dan verifikasi informasi secara menyeluruh.

Peningkatan literasi keuangan dan kesadaran hukum di harapkan dapat mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang, serta melindungi masyarakat dari praktik investasi yang merugikan.