Banjir – yang melanda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian, khususnya pada lahan sawah produktif. Berdasarkan data sementara dari Dinas Pertanian setempat, lebih dari lima ribu hektare lahan sawah terendam air akibat luapan sungai dan curah hujan yang tinggi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan produksi padi serta kesejahteraan petani di wilayah tersebut.
Lahan pertanian yang terdampak banjir tersebar di puluhan desa yang berada dalam belasan kecamatan. Hingga saat ini, proses pendataan masih terus dilakukan oleh petugas lapangan karena genangan air belum sepenuhnya surut. Situasi tersebut menyulitkan pemerintah daerah untuk memastikan tingkat kerusakan tanaman serta potensi kerugian yang di alami petani.
Ancaman Gagal Panen dan Kerugian Petani
Banjir yang berlangsung selama beberapa hari berpotensi menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi, terutama yang berada pada fase tanam dan menjelang panen. Tanaman yang terendam air dalam waktu lama berisiko mengalami pembusukan, gangguan pertumbuhan, hingga puso atau gagal panen total. Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat laporan resmi mengenai status puso karena kondisi lahan masih dalam pengamatan.
Ketidakpastian ini berdampak langsung pada petani yang menggantungkan pendapatan dari hasil panen. Apabila gagal panen terjadi, petani tidak hanya kehilangan hasil produksi, tetapi juga menghadapi kesulitan dalam menyediakan modal untuk musim tanam berikutnya. Dampak lanjutan dari kondisi ini dapat memengaruhi ketahanan pangan di tingkat lokal.
Upaya Pemerintah dalam Menangani Dampak Banjir
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian telah menyiapkan berbagai bentuk dukungan bagi petani. Bantuan berupa benih padi dan pestisida telah di alokasikan melalui program rutin dari Direktorat Serealia di bawah Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Program ini merupakan bagian dari upaya peningkatan indeks pertanaman yang secara reguler di laksanakan setiap tahun.
Program tersebut mencakup ribuan hektare sawah dengan rencana masa tanam pada awal tahun 2026. Sementara itu, bantuan khusus untuk lahan sawah yang terdampak banjir saat ini masih dalam proses pengajuan ke tingkat kementerian. Pemerintah berharap bantuan tersebut dapat mempercepat pemulihan lahan pertanian pasca banjir.

Foto: Hamparan areal persawahan berikut permukiman penduduk di wilayah Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, terendam banjir, Minggu.
Hambatan Aktivitas Pertanian Akibat Genangan Air
Selain menyebabkan kerusakan tanaman, banjir juga menghambat berbagai aktivitas pertanian. Genangan air dengan ketinggian bervariasi membuat lahan tidak dapat diolah sementara waktu. Akses menuju area persawahan terputus, saluran irigasi meluap, dan peralatan pertanian milik petani ikut terendam air.
Kondisi ini memaksa petani menunda sejumlah kegiatan penting seperti pemupukan, penyiangan, hingga proses panen. Penundaan tersebut berpotensi menurunkan kualitas hasil pertanian dan memperpanjang masa produksi. Dalam jangka panjang, hambatan ini dapat mengganggu siklus tanam dan produktivitas pertanian secara keseluruhan.
Wilayah dengan Tingkat Kerawanan Tinggi
Sebagian besar lahan pertanian yang terdampak banjir berada di wilayah dataran rendah dan berdekatan dengan aliran sungai. Kecamatan-kecamatan yang di kenal sebagai sentra produksi padi menjadi area dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap banjir musiman. Ketinggian air yang mencapai puluhan sentimeter menyebabkan tanaman padi terendam sepenuhnya dan tidak dapat diselamatkan dalam waktu singkat.
Situasi ini menunjukkan pentingnya perencanaan tata kelola lahan dan sistem pengendalian banjir yang lebih baik di wilayah pertanian. Upaya mitigasi bencana menjadi aspek krusial untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian di Kabupaten Bekasi.
Implikasi Terhadap Ketahanan Pangan Lokal
Dampak banjir terhadap pertanian tidak hanya di rasakan oleh petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan beras di tingkat lokal. Apabila produksi padi menurun secara signifikan, maka pasokan beras dapat terganggu dan berdampak pada stabilitas harga. Oleh karena itu, penanganan banjir dan pemulihan lahan pertanian menjadi prioritas penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.