Aksi unjuk rasa kembali berlangsung di kawasan Jakarta Pusat. Kali ini, lokasi yang dipilih adalah depan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Massa aksi terdiri dari unsur buruh dan mahasiswa yang menyuarakan solidaritas internasional. Fokus utama tuntutan mereka adalah pembebasan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Sejak pagi hari, situasi di sekitar kedutaan tampak di padati peserta aksi. Kehadiran aparat keamanan terlihat untuk menjaga ketertiban. Meskipun demikian, demonstrasi berjalan secara terbuka dan terkoordinasi. Orasi dilakukan secara bergantian menggunakan mobil komando sebagai pusat aksi.

Keterlibatan Mahasiswa dan Buruh dalam Aksi Solidaritas

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) se-Jakarta menjadi kelompok awal yang hadir. Selanjutnya, massa dari elemen buruh dan organisasi lainnya ikut bergabung. Kehadiran lintas kelompok ini menunjukkan kuatnya semangat kolektif dalam menyikapi isu global.

Selain berorasi, peserta aksi membawa spanduk dan poster. Pesan yang di tampilkan berisi dukungan terhadap Venezuela serta kritik terhadap kebijakan Amerika Serikat. Melalui simbol visual tersebut, massa berupaya menyampaikan pesan politik secara langsung kepada publik dan pihak terkait.

Tuntutan Pembebasan Nicolas Maduro

Isu utama yang di suarakan adalah tuntutan pembebasan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Massa aksi menilai bahwa tekanan politik dan tindakan yang di arahkan kepadanya tidak mencerminkan prinsip keadilan internasional. Oleh karena itu, mereka menuntut agar Amerika Serikat menghentikan segala bentuk intervensi.

Selain itu, peserta aksi juga menyerukan penghentian agresi militer. Menurut mereka, tindakan tersebut hanya akan memperpanjang konflik dan memperburuk kondisi kemanusiaan. Dampak sosial dan ekonomi yang di rasakan rakyat Venezuela menjadi perhatian utama dalam tuntutan ini.

Massa buruh dan mahasiswa membawa spanduk saat aksi solidaritas untuk Venezuela di Jakarta

Massa demo Kedubes AS

Kritik terhadap Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat

Dalam berbagai orasi, kritik tajam di arahkan kepada kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Kebijakan tersebut di nilai bersifat sepihak dan mengabaikan hukum internasional. Para orator menegaskan bahwa tindakan agresif tidak dapat di benarkan dalam tatanan global modern.

Lebih lanjut, kebijakan tersebut di anggap mencederai prinsip hak asasi manusia. Intervensi militer di sebut sebagai bentuk dominasi kekuatan besar terhadap negara berdaulat. Oleh sebab itu, massa aksi menilai perlunya tekanan moral dari komunitas internasional.

Harapan terhadap Peran Pemerintah Indonesia

Tidak hanya menyampaikan kritik kepada Amerika Serikat, massa aksi juga mengajukan harapan kepada pemerintah Indonesia. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di minta untuk bersikap tegas. Sikap tersebut di harapkan tercermin dalam pernyataan resmi dan langkah diplomatik.

Sebagai negara dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia di nilai memiliki posisi strategis. Oleh karena itu, massa berharap Indonesia dapat mendorong penyelesaian konflik secara damai. Selain itu, dukungan terhadap kedaulatan Venezuela di anggap sejalan dengan nilai konstitusi Indonesia.

Penutup

Aksi demonstrasi buruh dan mahasiswa di depan Kedubes AS menjadi wujud kepedulian terhadap isu internasional. Tuntutan pembebasan Presiden Venezuela dan penghentian agresi militer menegaskan posisi massa aksi terhadap keadilan global. Melalui aksi damai ini, mereka berharap suara masyarakat sipil dapat memengaruhi kebijakan internasional.

Secara keseluruhan, demonstrasi tersebut menunjukkan bahwa isu global memiliki dampak luas. Partisipasi aktif masyarakat menjadi bukti bahwa solidaritas lintas negara masih relevan dalam memperjuangkan perdamaian dunia.