Kekalahan tim nasional Vietnam U-23 dari China pada babak semifinal Piala Asia U-23 2026 menjadi momen reflektif bagi pelatih kepala Kim Sang Sik. Pertandingan yang berakhir dengan skor 0-3 tersebut menandai kegagalan Vietnam melangkah ke partai final, sekaligus menghentikan harapan untuk mengulang pencapaian bersejarah pada edisi-edisi sebelumnya. Dalam pernyataannya pascalaga, Kim Sang Sik secara terbuka menyampaikan ketidakpuasannya terhadap performa para pemain, khususnya pada aspek teknis dan konsentrasi permainan.
Persiapan Taktis yang Tidak Berjalan Optimal
Menurut Kim Sang Sik, tim pelatih telah mempersiapkan strategi khusus untuk menghadapi kekuatan China yang di kenal unggul secara fisik dan disiplin taktik. Namun, implementasi strategi tersebut di lapangan tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Pada babak pertama, Vietnam memang mampu menahan imbang China tanpa gol, tetapi kualitas permainan di nilai belum memenuhi ekspektasi.
Pelatih asal Korea Selatan tersebut menyoroti lemahnya tekanan terhadap lawan serta akurasi operan yang kurang konsisten. Dua aspek ini di nilai krusial dalam pertandingan dengan intensitas tinggi seperti semifinal turnamen Asia. Meskipun tidak kebobolan pada paruh pertama, Vietnam di nilai gagal mengontrol tempo permainan dan tidak cukup efektif dalam membangun serangan.
Perubahan Dinamika Pertandingan di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, situasi pertandingan berubah drastis. China berhasil mencetak gol pembuka pada menit ke-47 yang secara signifikan memengaruhi mental bertanding Vietnam. Hanya berselang beberapa menit, gawang Vietnam kembali kebobolan sehingga skor berubah menjadi 2-0. Kondisi ini memaksa Vietnam untuk bermain lebih terbuka demi mengejar ketertinggalan.
Namun, upaya tersebut semakin sulit setelah salah satu pemain Vietnam harus meninggalkan lapangan akibat kartu merah pada menit ke-74. Bermain dengan sepuluh orang membuat organisasi permainan Vietnam menurun, terutama dalam mengantisipasi situasi bola mati. Kurangnya fokus dan koordinasi akhirnya dimanfaatkan China untuk mencetak gol tambahan pada masa injury time.

Pelatih Timnas Vietnam Kim Sang Sik
Pengakuan atas Keunggulan Lawan
Dalam evaluasinya, Kim Sang Sik secara objektif mengakui bahwa China tampil lebih solid dan efektif. Keunggulan fisik, disiplin posisi, serta kemampuan memanfaatkan peluang menjadi faktor utama kemenangan China. Ia menilai bahwa tim lawan memang layak melaju ke partai final berdasarkan performa sepanjang pertandingan.
Pengakuan ini mencerminkan pendekatan profesional dalam menilai hasil pertandingan, sekaligus menjadi bahan pembelajaran penting bagi pengembangan tim Vietnam U-23 ke depan. Kekalahan ini tidak semata-mata di lihat sebagai kegagalan, tetapi sebagai proses pembentukan karakter dan pengalaman bertanding di level Asia.
Tanggung Jawab Pelatih dan Apresiasi kepada Pemain
Kim Sang Sik juga menunjukkan sikap kepemimpinan dengan mengambil tanggung jawab penuh atas hasil pertandingan. Ia menegaskan bahwa kegagalan mencapai final merupakan kesalahannya sebagai pelatih, bukan semata-mata kesalahan individu pemain. Pernyataan ini memperlihatkan upaya menjaga mental dan kepercayaan diri skuad muda Vietnam.
Di sisi lain, apresiasi tetap di berikan kepada para pemain yang telah berjuang hingga babak semifinal. Pencapaian tersebut di nilai sebagai hasil kerja keras tim dan bukti bahwa Vietnam masih mampu bersaing di tingkat regional dan kontinental. Fokus tim selanjutnya adalah pertandingan perebutan tempat ketiga, yang di pandang penting untuk menutup turnamen dengan hasil positif.
Tantangan Struktural Sepak Bola Vietnam
Dalam refleksi yang lebih luas, Kim Sang Sik menyinggung tantangan klasik yang di hadapi tim-tim Vietnam, yakni perbedaan kualitas fisik di bandingkan lawan-lawan dari Asia Timur dan Asia Barat. Secara individu, pemain Vietnam di nilai tidak selalu unggul, namun kekuatan utama terletak pada semangat kolektif dan kekompakan tim.
Ia menekankan bahwa ketika semangat kebersamaan dan solidaritas tim terjaga, Vietnam mampu menutupi keterbatasan individu dan melangkah jauh dalam turnamen. Pendekatan ini menjadi fondasi penting dalam pembangunan tim nasional, baik di level U-23 maupun senior, guna menghadapi kompetisi internasional di masa mendatang.