Indonesia berada di kawasan yang sangat aktif secara geologis. Kondisi ini tidak terlepas dari posisinya yang terletak pada pertemuan beberapa lempeng tektonik utama. Oleh karena itu, kejadian gempa bumi menjadi fenomena yang relatif sering terjadi. Salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi adalah Maluku, khususnya kawasan Laut Banda. Wilayah ini di kenal memiliki struktur tektonik yang kompleks. Dengan demikian, setiap aktivitas seismik yang terjadi di kawasan tersebut perlu mendapat perhatian serius.

Pada awal Januari 2026, kembali terjadi gempa bumi di Laut Banda. Peristiwa ini menambah daftar aktivitas seismik yang tercatat di wilayah timur Indonesia. Selain itu, kejadian tersebut memberikan gambaran nyata mengenai dinamika geologi yang masih berlangsung hingga saat ini.

Waktu dan Lokasi Kejadian Gempa

Gempa bumi terjadi pada Selasa, 13 Januari 2026, pada pukul 05.59 WIB. Berdasarkan pemantauan seismik, kekuatan gempa tercatat sebesar magnitudo 5,3. Episenter gempa berada di wilayah perairan Laut Banda. Secara geografis, titik gempa terletak pada koordinat 7,81° Lintang Selatan dan 128,97° Bujur Timur.

Lokasi tersebut berada sekitar 136 kilometer di arah timur laut Maluku Barat Daya. Sementara itu, kedalaman gempa tercatat sekitar 50 kilometer. Kedalaman ini menunjukkan bahwa gempa tergolong dangkal hingga menengah. Kondisi tersebut memungkinkan guncangan dapat di rasakan di beberapa wilayah sekitarnya.

Jenis dan Karakteristik Gempa Bumi

Berdasarkan analisis hiposenter dan episenter, gempa ini dikategorikan sebagai gempa dangkal. Penyebab utama peristiwa tersebut adalah deformasi batuan di dalam slab Banda. Struktur geologi Laut Banda memang sangat kompleks. Hal ini di sebabkan oleh interaksi beberapa lempeng dan mikro-lempeng tektonik.

Selain itu, proses penunjaman yang aktif di kawasan ini turut memicu akumulasi energi di dalam kerak bumi. Ketika energi tersebut di lepaskan, maka terjadilah gempa bumi. Oleh sebab itu, gempa dengan karakteristik serupa kerap terjadi di wilayah Maluku dan sekitarnya.

Peta seismik gempa bumi magnitudo 5,3 di Laut Banda, Maluku berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika

Gempa Besar M5,3 Guncang Laut Banda Maluku, Tak Berpotensi Tsunami

Mekanisme Pergerakan Sumber Gempa

Analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki pola pergerakan geser naik. Mekanisme ini mencerminkan adanya kombinasi gaya horizontal dan vertikal. Dengan kata lain, batuan tidak hanya bergeser, tetapi juga mengalami pengangkatan.

Mekanisme geser naik umumnya berasosiasi dengan zona subduksi aktif. Kondisi tersebut sejalan dengan karakter tektonik Laut Banda. Akibatnya, wilayah ini menjadi salah satu pusat aktivitas seismik di Indonesia bagian timur.

Intensitas Guncangan di Wilayah Sekitar

Selanjutnya, estimasi peta guncangan menunjukkan adanya variasi intensitas di beberapa daerah. Wilayah Maluku Barat Daya mengalami guncangan dengan skala IV MMI. Pada tingkat ini, getaran di rasakan oleh banyak orang di dalam bangunan. Benda ringan pun dapat bergoyang.

Di sisi lain, wilayah Mdona Hiera mengalami guncangan dengan skala III MMI. Getaran di rasakan jelas, namun tidak menimbulkan kepanikan berarti. Adapun di wilayah Amahai, Maluku Tengah, intensitas guncangan berada pada kisaran II hingga III MMI. Getaran hanya di rasakan oleh sebagian masyarakat dalam kondisi tertentu.

Potensi Dampak dan Upaya Kesiapsiagaan

Hingga saat ini, belum terdapat laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban akibat gempa tersebut. Selain itu, hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meskipun demikian, kewaspadaan tetap perlu di tingkatkan.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat di wilayah rawan gempa. Edukasi kebencanaan perlu terus dilakukan. Selain itu, penerapan standar bangunan tahan gempa juga menjadi langkah krusial. Dengan kesiapsiagaan yang baik, risiko dampak gempa bumi dapat di minimalkan.

Oleh karena itu, pemahaman terhadap karakteristik gempa bumi di Laut Banda sangat penting. Pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi mitigasi bencana. Pada akhirnya, upaya ini di harapkan mampu meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi di masa mendatang.