Pertandingan antara Manchester City dan Chelsea pada lanjutan Liga Inggris musim 2025/2026 menghadirkan dinamika menarik. Chelsea datang ke Etihad Stadium dengan status tim tamu serta pelatih interim baru, Calum McFarlane. Meski berada di bawah tekanan, The Blues mampu menahan imbang tuan rumah dengan skor 1-1.
Manchester City tampil dominan sejak awal laga. Dukungan publik sendiri memperkuat intensitas permainan mereka. Namun demikian, Chelsea menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Satu poin yang di raih menjadi hasil penting dalam persaingan papan atas klasemen.
Keunggulan Awal Manchester City
Pada babak pertama, Manchester City berhasil membuka keunggulan. Gol tersebut dicetak oleh Tijjani Reijnders melalui skema serangan yang efektif. Sejak saat itu, City semakin mengontrol tempo permainan. Penguasaan bola mereka berjalan stabil dan terorganisasi.
Di sisi lain, Chelsea kesulitan keluar dari tekanan. Struktur permainan yang di siapkan sebelumnya tidak berjalan optimal. Hal ini di pengaruhi oleh pendekatan taktik Manchester City yang berbeda dari perkiraan awal.
Respons Chelsea terhadap Perubahan Strategi Lawan
Calum McFarlane mengakui adanya kejutan dalam pendekatan lawan. Penempatan Reijnders di sektor sayap kiri menciptakan ketidakseimbangan dalam sistem bertahan Chelsea. Akibatnya, lini tengah Chelsea kehilangan kontrol pada fase awal pertandingan.
Oleh karena itu, Chelsea lebih banyak bertahan dengan formasi rendah. Para pemain sayap turut membantu lini belakang. Meskipun demikian, pendekatan tersebut justru memberi ruang bagi Manchester City untuk menjaga ritme permainan.

Tijjani Reijnders di Manchester City Sumber : REUTERS/Peter Powell
Penyesuaian Taktik sebagai Titik Balik
Memasuki fase berikutnya, McFarlane melakukan evaluasi cepat. Chelsea mulai menerapkan penjagaan man-to-man saat tidak menguasai bola. Selain itu, intensitas tekanan juga ditingkatkan secara bertahap.
Dengan demikian, alur permainan Manchester City mulai terganggu. Distribusi bola mereka tidak lagi berjalan lancar. Chelsea pun memperoleh lebih banyak kesempatan untuk merebut penguasaan bola dan membangun serangan.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada struktur bertahan. Transisi permainan Chelsea juga menjadi lebih efektif. Tim mampu bergerak lebih kompak antar lini.
Kontribusi Pergantian Pemain
Keputusan pergantian pemain menjadi faktor penting lainnya. Masuknya Andrey Santos memberikan keseimbangan di lini tengah. Ia berperan aktif dalam duel dan distribusi bola. Perannya memungkinkan Enzo Fernandez bermain lebih ofensif.
Selain itu, kehadiran Liam Delap menghadirkan opsi serangan yang berbeda. Chelsea dapat bermain lebih langsung. Bek tengah Manchester City pun di buat lebih sibuk menghadapi tekanan fisik dan pergerakan tanpa bola.
Secara keseluruhan, perubahan ini memperkuat struktur permainan Chelsea di babak kedua.
Mentalitas Pemain Muda dalam Situasi Sulit
Tidak hanya aspek teknis yang menonjol. Mentalitas pemain muda Chelsea juga menjadi sorotan. Dalam kondisi tertinggal dan menghadapi berbagai perubahan mendadak, para pemain tetap menunjukkan kedewasaan bermain.
Mereka mampu menerima instruksi dengan cepat. Adaptasi di lapangan berjalan efektif. Sikap ini mencerminkan karakter kuat yang sedang dibangun di dalam tim.
Kerja sama antar pemain terlihat lebih solid. Intensitas permainan meningkat seiring berjalannya waktu.
Gol Penyeimbang dan Makna Hasil Akhir
Upaya Chelsea akhirnya membuahkan hasil pada masa injury time. Enzo Fernandez mencetak gol penyeimbang yang krusial. Gol tersebut memastikan Chelsea membawa pulang satu poin dari laga tandang yang sulit.
Lebih dari sekadar hasil imbang, pertandingan ini menunjukkan potensi Chelsea ke depan. Fleksibilitas taktik, efektivitas pergantian pemain, serta mentalitas kompetitif menjadi modal penting.
Dengan demikian, debut Calum McFarlane sebagai pelatih interim dapat dinilai positif. Chelsea menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dan bersaing, bahkan saat menghadapi tim dengan dominasi permainan yang kuat.