Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mengarahkan pembangunan pariwisata pada penguatan sektor budaya. Pendekatan ini di nilai mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian nilai lokal. Dalam konteks tersebut, Cirebon di pilih sebagai salah satu wilayah strategis.
Selain memiliki sejarah panjang, Cirebon juga di kenal sebagai ruang pertemuan berbagai budaya. Oleh karena itu, pengembangan kawasan ini di arahkan untuk menjadi etalase wisata budaya Jawa Barat. Memasuki tahun 2026, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menyiapkan sejumlah program prioritas yang terintegrasi.
Langkah ini di harapkan mampu meningkatkan daya saing pariwisata daerah. Di sisi lain, upaya tersebut juga memperkuat identitas budaya masyarakat setempat.
Revitalisasi Keraton sebagai Fondasi Wisata Budaya
Keraton menjadi elemen utama dalam pengembangan wisata budaya Cirebon. Sebagai simbol sejarah, kawasan ini merepresentasikan perjalanan budaya yang masih hidup hingga kini. Oleh sebab itu, revitalisasi keraton di tempatkan sebagai program awal.
Keraton Kasepuhan di proyeksikan sebagai titik masuk revitalisasi tersebut. Penataan tidak hanya menyasar bangunan fisik. Narasi sejarah dan pengalaman wisata juga di perkuat secara bersamaan.
Selanjutnya, pengembangan akan dilakukan secara bertahap pada keraton lain di Cirebon. Dengan pendekatan ini, keberlanjutan nilai budaya tetap terjaga. Pada saat yang sama, kualitas destinasi wisata dapat meningkat.
Aktivasi Budaya sebagai Ruang Interaksi Antarwilayah
Selain penataan destinasi, aktivasi budaya menjadi strategi pendukung yang penting. Berbagai kegiatan seni dan budaya di rancang untuk melibatkan kabupaten dan kota di Jawa Barat. Cirebon di posisikan sebagai ruang pertemuan budaya daerah.
Karakter budaya Cirebon yang terbentuk dari pengaruh Sunda, Jawa, dan pesisir memperkuat peran tersebut. Dengan demikian, interaksi budaya dapat berlangsung secara alami dan inklusif.
Di samping itu, kegiatan budaya juga mendorong partisipasi masyarakat lokal. Hal ini penting untuk menjaga kesinambungan tradisi sekaligus memperluas manfaat ekonomi kreatif.
Penataan Trusmi sebagai Destinasi Wisata Kreatif
Sementara itu, kawasan Trusmi menjadi fokus penataan berikutnya. Sentra batik ini telah di kenal luas, namun masih membutuhkan penguatan tata kawasan. Penataan di arahkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan tertib.
Lebih dari sekadar pusat perdagangan, Trusmi di posisikan sebagai destinasi wisata kreatif. Wisatawan di harapkan tidak hanya berbelanja, tetapi juga memahami proses dan filosofi batik Cirebon.
Dengan pendekatan tersebut, nilai budaya batik dapat terangkat. Pada akhirnya, keberlanjutan tradisi membatik tetap terjaga di tengah perkembangan pariwisata.

Keraton Kasepuhan Cirebon. (Foto: Google)
Integrasi Wisata Budaya dengan BIJB Kertajati
Di sisi lain, pengembangan wisata budaya Cirebon juga di kaitkan dengan program Rebana Metropolitan. Keberadaan Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati membuka peluang konektivitas yang lebih luas. Penambahan rute penerbangan internasional menjadi faktor pendukung utama.
Kondisi ini menuntut kesiapan destinasi di sekitarnya. Oleh karena itu, Cirebon di persiapkan sebagai destinasi budaya yang berkarakter kuat. Wisata budaya dinilai paling relevan untuk di tawarkan kepada wisatawan mancanegara.
Dengan konsep yang jelas, Cirebon diharapkan mampu menjadi pendukung utama aktivitas bandara tersebut.
Pengelolaan Wisata Religi dan Pelestarian Cagar Budaya
Adapun wisata religi Makam Sunan Gunung Jati telah berjalan dengan baik. Meski demikian, penataan tetap di perlukan secara bertahap. Tujuannya adalah menjaga ketertiban dan keberlanjutan kawasan.
Selain itu, kajian pusaka dan cagar budaya terus dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Pelestarian Kebudayaan. Walaupun fokus kajian tahun 2026 belum di arahkan ke Cirebon, wilayah ini tetap menjadi bagian penting dalam agenda pelestarian budaya.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pengembangan Cirebon sebagai etalase wisata budaya Jawa Barat dilakukan melalui pendekatan terpadu. Revitalisasi destinasi, aktivasi budaya, serta penguatan konektivitas menjadi pilar utama. Dengan strategi tersebut, Cirebon berpotensi menjadi pusat wisata budaya yang berdaya saing dan berkelanjutan.