Pilihan Jurusan Kuliah – Menentukan jurusan kuliah menjadi salah satu keputusan penting sebelum memasuki perguruan tinggi. Pilihan bidang studi tidak hanya berkaitan dengan minat akademik. Jurusan yang diambil juga dapat memengaruhi peluang kerja serta potensi pendapatan setelah menyelesaikan pendidikan.
Setiap bidang memiliki kondisi pasar tenaga kerja yang berbeda. Beberapa jurusan menawarkan peluang mendapatkan pekerjaan yang lebih besar. Sementara itu, bidang lainnya menghadapi persaingan yang lebih ketat setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
Berdasarkan laporan The Hill pada 14 Februari 2026, sejumlah jurusan tercatat mempunyai tingkat pengangguran relatif rendah. Data tersebut merujuk pada analisis Federal Reserve Bank of New York atau New York Fed.
Lembaga tersebut mengamati kondisi lulusan dari 73 bidang studi dengan memanfaatkan data Biro Sensus Amerika Serikat. Analisis itu memberikan gambaran mengenai hubungan antara pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan lulusan perguruan tinggi.
Menariknya, banyak jurusan dengan angka pengangguran rendah berkaitan dengan profesi yang membutuhkan hubungan langsung antarmanusia. Karakter pekerjaan semacam ini membuat sebagian tugas relatif sulit dilakukan sepenuhnya secara daring maupun digantikan teknologi.
Interaksi Langsung Membuka Peluang Kerja
Bidang pendidikan menjadi salah satu kelompok yang menonjol dalam analisis tersebut. Selain itu, beberapa jurusan yang mengarahkan lulusannya pada pekerjaan dengan interaksi manusia juga menunjukkan peluang kerja cukup kuat.
Layanan sosial, misalnya, mencatat angka pengangguran sebesar 1,9 persen. Sementara itu, keperawatan memiliki angka 2,1 persen.
Persentase tersebut berada jauh di bawah angka pengangguran lulusan perguruan tinggi baru secara keseluruhan. Pada periode yang dianalisis, tingkat pengangguran kelompok tersebut mencapai 4,2 persen.
Meskipun data New York Fed menggambarkan situasi pasar tenaga kerja pada 2024, pola tersebut masih mencerminkan kecenderungan perekrutan dalam beberapa tahun terakhir. Profesi yang membutuhkan pelayanan serta komunikasi langsung tetap memerlukan tenaga manusia dalam jumlah besar.
Kondisi itu sekaligus memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi tidak memberikan dampak yang sama terhadap setiap profesi. Sejumlah pekerjaan tetap membutuhkan kemampuan interpersonal, komunikasi, pelayanan, serta keahlian khusus yang dilakukan secara langsung.
Pengangguran Rendah Tidak Selalu Berarti Gaji Tinggi
Peluang memperoleh pekerjaan yang besar ternyata tidak otomatis membuat lulusan menerima pendapatan tinggi. Analisis New York Fed memperlihatkan adanya perbedaan antara keamanan pekerjaan dengan besaran penghasilan pada beberapa bidang.
Sebanyak delapan dari sepuluh jurusan dengan angka pengangguran paling rendah mempunyai pendapatan awal karier di bawah 58.000 dollar AS. Nilai tersebut merupakan median penghasilan lulusan perguruan tinggi yang baru memulai karier pada 2024.
Sebagai contoh, lulusan pendidikan khusus dengan gelar sarjana mendapatkan penghasilan awal sekitar 46.000 dollar AS. Adapun lulusan layanan sosial memperoleh sekitar 43.000 dollar AS pada tahap awal karier.
Namun, tidak semua jurusan mengikuti pola tersebut. Keperawatan dan teknologi rekayasa menjadi dua bidang yang mampu menawarkan peluang kerja kuat sekaligus pendapatan di atas rata-rata.
Lulusan keperawatan memiliki penghasilan awal sekitar 70.000 dollar AS. Sementara lulusan teknologi rekayasa dapat memperoleh sekitar 65.000 dollar AS.
Keperawatan Memiliki Underemployment Rendah
Selain melihat angka pengangguran, New York Fed turut menganalisis tingkat underemployment. Indikator ini menggambarkan proporsi lulusan perguruan tinggi yang bekerja pada posisi yang biasanya tidak mensyaratkan gelar sarjana.
Semakin kecil persentasenya, semakin besar kemungkinan lulusan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan jenjang pendidikan mereka.
Keperawatan kembali menempati posisi menonjol. Bidang tersebut mempunyai tingkat underemployment hanya 12,8 persen, paling rendah di bandingkan jurusan lain yang masuk dalam analisis.
Sejumlah bidang teknik juga menunjukkan hasil cukup baik. Tingkat underemployment beberapa jurusan teknik berada di bawah 20 persen.
Data tersebut mengindikasikan adanya hubungan yang kuat antara pendidikan dengan pekerjaan yang diperoleh setelah kelulusan. Artinya, lulusan dari bidang-bidang tersebut relatif lebih sering bekerja pada posisi yang membutuhkan kualifikasi pendidikan tinggi.
Dalam analisis ini, New York Fed memasukkan kelompok lulusan baru berusia 22 sampai 27 tahun yang telah memperoleh gelar sarjana atau pendidikan lebih tinggi.

Ilustrasi pengangguran.
Daftar 10 Jurusan dengan Tingkat Pengangguran Terendah
Mengacu pada data yang dilaporkan The Hill, pendidikan khusus menjadi jurusan dengan tingkat pengangguran paling rendah. Angkanya bahkan berada di bawah satu persen.
Berikut sepuluh bidang studi dengan angka pengangguran terendah:
- Pendidikan khusus – 0,7 persen
- Pendidikan lainnya – 1,1 persen
- Pendidikan dasar – 1,2 persen
- Pertanian – 1,4 persen
- Bahasa asing – 1,6 persen
- Geografi – 1,6 persen
- Teknologi rekayasa – 1,7 persen
- Layanan sosial – 1,9 persen
- Keperawatan – 2,1 persen
- Pendidikan menengah – 2,1 persen
Sebagai pembanding, angka pengangguran keseluruhan di kalangan lulusan perguruan tinggi baru tercatat sebesar 4,2 persen. Dengan demikian, seluruh jurusan dalam daftar tersebut memiliki angka yang jauh lebih rendah.
Jurusan dengan Underemployment Paling Rendah
Kesesuaian pekerjaan dengan jenjang pendidikan juga penting untuk melihat prospek suatu jurusan. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah tingkat underemployment.
Berikut sepuluh jurusan dengan persentase underemployment terendah berdasarkan analisis tersebut:
- Keperawatan – 12,8 persen
- Teknik dirgantara – 14,7 persen
- Teknik sipil – 15,6 persen
- Teknik komputer – 15,8 persen
- Pendidikan khusus – 16,0 persen
- Pendidikan dasar – 16,2 persen
- Teknik kimia – 17,9 persen
- Jasa konstruksi – 17,9 persen
- Ilmu komputer – 19,1 persen
- Teknik mesin – 20,1 persen
Secara keseluruhan, tingkat underemployment lulusan perguruan tinggi baru mencapai 39,4 persen. Perbedaan yang cukup besar tersebut menunjukkan bahwa beberapa bidang mempunyai hubungan lebih erat antara pendidikan dan pekerjaan.
Jurusan Kuliah Bukan Satu-satunya Penentu Karier
Data mengenai tingkat pengangguran dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih program studi. Namun, angka tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan jurusan kuliah.
Prospek kerja seseorang tetap dipengaruhi banyak faktor. Pengalaman profesional, keterampilan teknis, kemampuan berkomunikasi, lokasi tempat bekerja, hingga perkembangan ekonomi dapat memengaruhi kesempatan mendapatkan pekerjaan.
Selain itu, kondisi pasar tenaga kerja dapat berubah seiring waktu. Jurusan yang memiliki permintaan tinggi pada satu periode belum tentu menunjukkan kondisi serupa beberapa tahun kemudian.
Karena itu, calon mahasiswa dapat mempertimbangkan prospek pekerjaan bersama minat dan kemampuan pribadi. Dengan pertimbangan yang lebih menyeluruh, pilihan pendidikan tidak hanya berorientasi pada peluang mendapatkan pekerjaan, tetapi juga pada kecocokan bidang dan rencana karier jangka panjang.